Make your inbox happier!

Subscribe to Our Newsletter

Cloud Hadirkan Kisah Cinta dalam Single Kedua “Asmara Bahagia”

Setelah memperkenalkan diri lewat single perdana Bookstore, grup musik pop asal Depok bernama Cloud kembali dengan karya terbaru bertajuk Asmara Bahagia. Lagu ini menjadi lanjutan dari cerita cinta yang sebelumnya telah dibangun, namun kali ini dengan suasana yang lebih hangat. Dalam Asmara Bahagia, Cloud menggambarkan momen spesial yang dikenal banyak orang sebagai butterfly era, sebuah …

Setelah memperkenalkan diri lewat single perdana Bookstore, grup musik pop asal Depok bernama Cloud kembali dengan karya terbaru bertajuk Asmara Bahagia. Lagu ini menjadi lanjutan dari cerita cinta yang sebelumnya telah dibangun, namun kali ini dengan suasana yang lebih hangat.

Dalam Asmara Bahagia, Cloud menggambarkan momen spesial yang dikenal banyak orang sebagai butterfly era, sebuah masa awal hubungan saat semuanya terasa baru, menyenangkan, dan berbunga-bunga. Lewat lirik – liriknya, lagu mereka inginkan para pendengar dapat merasakan bagaimana cinta bisa terasa begitu berwarna ketika dijalani bersama orang yang tepat.

Personil Cloud (Dok. Istimewa)

Salah satu lirik yang menurut Cloud dapat disorot adalah:“Ku harap kita bahagia melewati semua.” Kalimat ini mengandung makna mendalam: sebuah harapan agar hubungan cinta tidak hanya indah saat senang, tetapi juga kuat saat menghadapi tantangan. Musiknya sendiri memiliki nuansa lembut yang membuat lagu ini nyaman untuk didengarkan. Perpaduan lirik dan aransemen yang selaras membuat Asmara Bahagia terasa personal namun tetap mudah diterima oleh siapa saja yang pernah—atau sedang—merasakan cinta.

Dengan rilisnya single kedua ini, besar harapan Cloud, dapat tetap konsisten dalam merangkai cerita melalui musik. Asmara Bahagia soal percintaan saja, tapi juga tentang harapan yang terus bisa dijalankan secara bersama.

Helmi Rafi J

Helmi Rafi J

Helmi Rafi Jayaputra (Depok, 1996) telah bekerja selama 9 tahun sebagai Creative Generalist dan menyelesaikan beragam proyek dokumenter di berbagai kelembagaan non-profit, diantaranya; Penabulu Foundation (2015) dengan isu mengurangi tingkat emisi karbon dunia, Human Rights Working Group (2018) dengan isu Kebebasan Beragama dalam Hak Kemanusiaan, Sawit Watch (2021) dengan isu perhutanan sosial dan advokasi kebijakan sawit, dan Pandu Laut Nusantara (2024) dengan isu konservasi laut dan pemberdayaan masyarakat pesisir. Di ranah perfilman, Helmi pernah terlibat dalam INDICINEMA (2019), jaringan bioskop alternatif Indonesia yang berpusat di Bandung. Saat ini tergabung sebagai Digital Campaigner di WeSpeakUp.org sembari aktif membangun dan menulis di Kolase Kultur.
Keep in touch with our news & offers

Subscribe to Our Newsletter

What to read next...

Comments

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *