Kalau kita berbicara soal ruang, ruang itu ibarat peti mati yang kosong, pernah benar-benar mati karena kekurangan mayat. Ia mati ketika orang-orang di dalamnya terlalu terbiasa menunggu. Menunggu ruang yang “layak”. Menunggu audiens yang “cukup”. Menunggu momentum yang “tepat”. Dalam logika ini, inisiatif selalu ditunda, dan kreativitas dikondisikan untuk hadir hanya ketika semua persyaratan terpenuhi. …











