Pameran lintas disiplin kota Depok

Daraskota 2026

Angelissa Melissa: Ketika Monster Belajar Bicara dari Pinggiran Kota

Di sela riuh kota satelit yang kerap dibaca sebagai perpanjangan napas Depok, AngelissaMelissa menempuh jalur sunyi yang tak selalu tercatat dalam peta kebudayaan resmi. Ia adalahseniman interseks yang tumbuh di antara perumahan-perumahan padat, kampus megah, dangang-gang kecil tempat percakapan tentang tubuh sering kali berakhir dalam bisik-bisik. Darikota yang ruang publik keseniannya terbatas, Angelissa justru menemukan …

Di sela riuh kota satelit yang kerap dibaca sebagai perpanjangan napas Depok, Angelissa
Melissa menempuh jalur sunyi yang tak selalu tercatat dalam peta kebudayaan resmi. Ia adalah
seniman interseks yang tumbuh di antara perumahan-perumahan padat, kampus megah, dan
gang-gang kecil tempat percakapan tentang tubuh sering kali berakhir dalam bisik-bisik. Dari
kota yang ruang publik keseniannya terbatas, Angelissa justru menemukan alasan untuk
meneliti: bagaimana tubuh—terutama tubuh yang tak tunduk pada norma biner—bernegosiasi
dengan struktur sosial yang kaku?


Perjalanannya sebagai seniman tidak bermula dari galeri, melainkan dari kegelisahan personal.
Identitas interseks yang melekat pada dirinya bukan sekadar kategori biologis, tetapi
pengalaman hidup yang membentuk cara pandangnya terhadap dunia. Ia membaca filsafat,
menelusuri arsip, berbincang dengan komunitas minoritas—khususnya teman-teman transpuan
di Depok—dan meramu semua itu menjadi metode praktik berbasis riset. Angelissa kerap
menggunakan pendekatan prompt untuk menggali situated knowledge: pengetahuan yang lahir
dari pengalaman tubuh yang spesifik, rapuh, sekaligus politis.


Karena minimnya ruang dan akses institusional di Depok, ia bergerak secara organik. Ia
berjejaring lewat asosiasi gereja, diskusi akademik di Universitas Indonesia, dan relasi
pertemanan yang terbangun dari kebutuhan bersama untuk bertahan. Dalam ruang-ruang
alternatif itu, ia melihat bagaimana kelompok terpinggirkan menciptakan
interdependensi—membuka kesempatan satu sama lain untuk hidup, bekerja, dan merayakan
diri. Dari sanalah keseniannya berakar: bukan pada representasi yang gegap gempita,
melainkan pada percakapan yang intim dan relasi yang saling menguatkan.

[Artikel ini masih dalam perbaikan oleh tim Redaksi]

Kolase Kultur

Kolase Kultur

Keep in touch with our news & offers

Subscribe to Our Newsletter

What to read next...

Comments

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *