Pameran lintas disiplin kota Depok

Daraskota 2026

Dwi Nursyamsika: Mewarnai Realitas Dengan Warna-warni Bunga

Di sela waktu bertualang virtual di dunia Roblox, Dwi Nur Syamsika menyimpan sebuah keterampilan yang tak terduga untuk menekan rana kamera. Melalui lensa kamera, ia tidak hanya menangkap realitas; ia sedang merombak wajah kota yang keras menjadi taman bunga yang berwarna-warni. Piawai Memotret Sejak Belia Sekilas, tidak ada yang membedakan Dwi Nur Syamsika dengan anak-anak …

Di sela waktu bertualang virtual di dunia Roblox, Dwi Nur Syamsika menyimpan sebuah keterampilan yang tak terduga untuk menekan rana kamera. Melalui lensa kamera, ia tidak hanya menangkap realitas; ia sedang merombak wajah kota yang keras menjadi taman bunga yang berwarna-warni.

Piawai Memotret Sejak Belia

Sekilas, tidak ada yang membedakan Dwi Nur Syamsika dengan anak-anak seusianya.  Gadis yang baru menginjak usia 15 tahun ini menghabiskan kesehariannya untuk bermain dan mengerjakan tugas rumah sepulang sekolah. Sesekali, ia bergantian menjaga warung milik orang tuanya yang tak jauh dari rumah. Ia juga gemar menghabiskan waktunya berpetualang melalui gim virtual Roblox yang sedang tren di kalangan generasinya.

Namun, siapa sangka Dwi telah piawai mengoperasikan perangkat kamera DSLR semenjak usia belia. Tidak hanya itu, ia juga telah menelurkan beberapa karya lintas media yang telah ditampilkan dalam galeri pameran. Keterampilan serta prestasinya tumbuh melalui giatnya sebagai peserta belajar yang aktif berkarya di Lensa Anak Terminal (LAT) – sebuah komunitas yang mengajarkanya seni kreatif visual.

Dalam kegiatan belajar LAT di akhir pekan, Dwi tidak hanya diajarkan keahlian berbasiskan fotografi, tetapi juga didorong untuk membangun narasi cerita. Ia selalu bersemangat dalam kegiatan belajar memotret, terutama saat menjawab ragam tantangan petunjuk dari mentornya. Setiap karya fotonya tersimpan rapih di Google Drive. Tak jarang, ia memamerkan karya foto digitalnya kepada teman dan keluarga, baik secara langsung maupun melalui media sosial. Karya foto cetaknya pun dikembangkan menjadi karya lintas media melalui teknik kolase.

“Aku sangat suka kegiatan belajar memotret di LAT karena selain seru juga menarik. Kita juga diajarkan memotret hal yang unik dan tidak biasa, disamping itu kita sering dikasih tantangan. Aku suka banget, sih,” ungkap Dwi.

Menyemai Keberanian Lewat Kreativitas Visual

Dwi sudah bergabung selama lebih dari dua tahun di LAT. Pertemuannya dengan dunia kreatif visual dimulai ketika ia pindah ke pemukiman di sekitar Terminal Depok. Tak lama, Dwi kemudian diajak bergabung oleh teman-temannya yang lebih dahulu belajar bersama di LAT. Semenjak bergabung, ia menemukan potensi diri melalui praktik fotografi dan mulai tertarik pada dunia menggambar.   

“Awalnya aku kurang tertarik sama fotografi  dan juga tidak suka menggambar. Semenjak di lensa anak terminal, aku jadi suka”.

Semangat belajar Dwi selalu diapresiasi oleh para mentor yang mendampinginya. Rasa percaya dirinya tumbuh pesat; Dwi yang semula pemalui kini menjadi lebih berani menangkap cerita keseharian lewat kamera. Ia gemar memotret secara spontan objek-objek yang dianggapnya unik. Dwi juga sangat suka menggambar bunga untuk merespon karya fotonya. Selain mudah digambar, ia sangat senang mengeksplorasi gambar bunga yang berwarna-warni.

Bergabung di LAT membuat Dwi terpapar masuk ke dalam dunia seni-kreatif yang lebih luas. Lewat acara publik dan eskursi yang diselenggarakan oleh LAT membuatnya berkenalan dengan banyak pengkarya fotografi yang menginspirasinya. Ia juga berkembang menjadi anak yang lebih artikulatif untuk bisa berkomunikasi. Optimismenya hadir lewat cita-cita menjadi seorang fotografer mumpuni, tentu bersama rencana untuk membuka usaha dapur roti miliknya sendiri kelak. Belajar di LAT membuat dirinya menapaki rasa bangkit untuk terus percaya diri mengejar impiannya di masa depan.

“Dulu aku adalah anak yang sangat pendiam. Sejak belajar di LAT dan sering pergi memotret ke luar, aku jadi bisa kenal dengan banyak fotografer dan seniman lain. Melihat mereka, aku jadi lebih terinspirasi. Sebelumnya aku berpikir enggak akan mungkin bisa jadi sekeren mereka. Mendengar mereka bercerita jadi ngebangkitin kepercayaan diri kalau aku juga pasti bisa.”

Warna Warni Bunga di Dinding Jipfest

Prestasi yang paling dibanggakan oleh Dwi hadir melalui karyanya berjudul “Beton Tumbuh Bunga dan Kota yang Ceria”. Karya ini sukses dipamerkan oleh Adorama selama gelaran Jakarta International Photo Festival (Jipfest) 2025. Selain Dwi, terdapat empat karya dari peserta belajar LAT lainnya – mereka adalah Anissa Histroryna Safitri, Faidatunissa, M. Ilham Alfarel, serta M. Alfin Mubarok, yang meraih panggung di Jipfest 2025. Keterlibatan mereka menandai kesuksesan LAT berpartisipasi di festival tersebut selama empat tahun beruntun sejak tahun 2022.

“Beton Tumbuh Bunga dan Kota yang Ceria” merupakan karya lintas media berbasiskan fotografi yang dicetak dalam media kain, lengkap bersama takarir dan judulnya. Karya imajinatif ini memuat kritik terhadap ketidaksukaan Dwi terhadap sampah yang menggunung di lingkungan pasar Kemiri. Sebagai seorang anak, dirinya membayangkan alangkah indahnya apabila sampah tersebut diganti dengan bunga.

“Pesannya itu kita harus menjaga lingkungan kita dari sampah agar tidak merasa terganggu dan bau. Kalau diimajinasiin jadi bunga, orang pasti suka karena dia itu harum dan berwarna-warni.”

Karya ini dikerjakan Dwi dengan menggabungkan beberapa karya foto miliknya kala memotret pemandangan di pasar. Tebaran bunga, akar tumbuhan yang merambat di gedung, serta kawanan ragam jenis burung merupakan elemen yang dipadukan untuk mempercantik realitas di dalam karyanya. Dwi juga menempatkan objek foto bunga yang ‘mendobrak’ bingkai dari karya visual yang umumnya berbentuk persegi.

Dirinya tidak bisa menyembunyikan kegembiraan kala pertama kali melihat karya ini dipamerkan pada Jipfest 2025. Perasaan gembira ditumpahkan spontan dalam bentuk senyum dan tawa yang tak bisa dibendung. Dirinya berkelakar karena merasa keren bisa menjadi salah satu pengkarya di festival foto terbesar di Indonesia. Tentu rasa bangganya valid, apalagi karya fotonya bisa bersanding dengan nama fotografer besar seperti Muhammad Fadli dan Andika Oky Arisandi.  

Tameng dan Perisai Untuk Ruang Aman

LAT tidak hanya membawa perubahan bagi Dwi dan teman-temannya, tetapi juga terhadap lingkungan sekitar tempat ia tinggal. LAT telah menjadi ruang aman yang mengupayakan haknya sebagai seorang anak dan juga melindungnya sebagai seorang perempuan. Ia menambahkan bahwa LAT tidak mentoleransi segala bentuk tindakan yang mengintimidasi atau merendahkan martabat.

Dwi bercerita bagaimana mentor LAT tidak segan mengkonfrontasi para preman yang secara sengaja menganggunya secara verbal. Cerita itu terjadi ketika mereka tengah berkeliling untuk belajar memotret di sekitar terminal. Pada saat itu, Dwi dan beberapa anak perempuan lainnya mendapatkan umpatan yang merendahkan dari mulut sekelompok preman.

Kemudian seorang mentor dengan sigap menghadapi kelompok tersebut untuk tidak sekedar menegur, namun juga mengancam mereka yang telah menganggu dirinya. Kejadian ini sangat berkesan bagi Dwi, karena ia jarang mendapatkan perlindungan serupa dari orang sekitar di ruang publik. Semenjak saat itu, Dwi tidak pernah mendapati ada orang yang berani merendahkan dirinya beserta teman-teman perempuan lainnya di lingkungan tersebut.     

Membangun Masa Depan dari Bawah Jembatan Layang

Kini, LAT bersama masyarakat setempat tengah membangun ruang belajar kreatif di bawah Jalan Layang Arif Rahman Hakim bernama Stana Karsa. Saat ini, area tersebut berupa bidang lapang berhias mural yang telah digunakan untuk menyelenggarakan kegiatan belajar bagi Dwi dan teman-temannya. Menurut Dwi, LAT telah berhasil menduduki ruang tersebut dari pengaruh negatif kelompok preman yang sebelumnya menghuni di sana.

Membangun Stana Karsa merupakan upaya yang perlu dikerjakan bersama. Dengan dibangunnya tempat tersebut, Dwi merasa lingkungan tempat tinggalnya akan jauh lebih aman dibandingkan sebelumnya. Saat ini LAT tengah berproses untuk mendesain tempatnya bersama dengan kolaborasi bersama tim arsitek. Ia menyayangkan bahwa tempat belajarnya masih kerap disalahgunakan sekelompok kecil orang melakukan aktivitas yang meresahkan, semisal bermabuk-mabukan.

Dwi berharap nantinya akan dibangun perpustakaan dan ruang belajar yang dapat digunakan. Ia juga sangat bersedia apabila dipercaya mengelola ruang belajar tersebut kelak. Baginya, aktivitas belajar di LAT bukan hanya untuk kebaikan dirinya semata, namun juga sebagai persiapan untuk melanjutkan tonggak pengajaran bagi generasi berikutnya. Ia melihat dirinya bukan lagi sebagai peserta belajar yang hanya menerima ilmu, namun juga sebagai aktor yang siap untuk membawa perubahan lebih besar bagi kota tempat tinggalnya.

“Harapan aku semoga semakin banyak anak-anak yang mau tertarik belajar di LAT. Kedepannya aku juga harus siap mengajar dan mengajak mereka. Aku ingin LAT untuk selalu ada sampai kapan pun itu.”

Setyo Manggala

Setyo Manggala

Setyo Manggala Utama adalah seorang peneliti, pelaku kreatif, serta seorang aktivis sosial. Dirinya pernah menjadi peneliti lepas di beberapa lembaga penelitian, seperti Asia Research Center dan Puskakom UI. Tahun 2016-2023, ia mengajar di program sarjana Departemen Ilmu Komunikasi Universitas Indonesia. Saat ini, tengah mengembangkan sebuah pendekatan interdisipliner yang mengaitkan antara kajian pembangunan dan kesenian melalui Komunitas Lensa Anak Terminal. Selain itu, Setyo juga tengah membangun ruang kreatif ramah anak yang inklusif bernama Stana Karsa.
Keep in touch with our news & offers

Subscribe to Our Newsletter

What to read next...

Comments

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *