Pameran lintas disiplin kota Depok

Daraskota 2026

Rahmania Nerva: Spektrum Abu-abu Sastra yang Beralih Wahana

Bagi Rahmania Nerva, seni rupa bukanlah sebuah garis lurus yang ia rencanakan sejak awal. Perjalanannya adalah sebuah 'pengalihan wahana'—sebuah migrasi kreatif dari karya sastra menuju eksplorasi visual yang menantang batas-batas moralitas. Lewat kolektif dan ruang-ruang alternatif, lulusan Sastra Rusia Universitas Indonesia ini tidak sekadar berpindah medium, melainkan sedang membangun sebuah spektrum abu-abu; sebuah ruang antara …

Bagi Rahmania Nerva, seni rupa bukanlah sebuah garis lurus yang ia rencanakan sejak awal. Perjalanannya adalah sebuah ‘pengalihan wahana’—sebuah migrasi kreatif dari karya sastra menuju eksplorasi visual yang menantang batas-batas moralitas. Lewat kolektif dan ruang-ruang alternatif, lulusan Sastra Rusia Universitas Indonesia ini tidak sekadar berpindah medium, melainkan sedang membangun sebuah spektrum abu-abu; sebuah ruang antara di mana hitam dan putih, baik dan buruk, serta estetika dan politik saling berkelindan tanpa harus saling menghakimi.

Bukan Jalan yang Direncanakan: Menemukan Ruang di Balik Galeri

Menjadi seniman mungkin bukan sebuah jalan yang direncanakan oleh Rahmania Nerva. Seniman lintas disiplin yang akrab dipanggil Rara ini awalnya hanya menggemari kesastraan hingga lulus dari studi Sastra Rusia, Universitas Indonesia, pada tahun 2023. Langkahnya menapaki dunia kesenian dimulai ketika dirinya bekerja sebagai pemagang di Gerai Salihara – sebuah ruang yang mempertemukannya dengan skena seni Indonesia. Ketertarikannya pada kesenian mulai terbangun dari kesehariannya bekerja di gerai; ia mulai berkenalan dengan para seniman dan kurator, sembari aktif mengamati berbagai pameran yang terselenggara.

Perhatiannya kian terpancang kala mendapati informasi seputar kolektif Forum Lenteng. Dari sana, Rara menggali lebih dan menemukan Milisifilem, sebuah program pendidikan seni yang diinisiasi Forum Lenteng. Kesempatan ini menggerakan dirinya untuk mendaftar dan mengantarkannya terpilih menjadi salah satu partisipan dalam ruang belajar kolektif tersebut.

Cakrawala pengetahuan serta keterampilan Rara mulai tertempa selama berpartisipasi di Milisifilem. Dirinya mempelajari banyak hal, mulai dari produksi film hingga sejarah kesenian. Hasrat belajarnya semakin terakomodir kala dirinya menjalani program residensi melukis yang membuatnya menyadari bahwa dirinya memiliki potensi dalam pengkaryaan seni. Tidak berhenti di satu disiplin, Rara juga menekuni medium lain seperti audio visual dan kolase yang kini sangat digemarinya.

Denyut yang Berdebar: Siasat di Atas Gerbong Kereta.

Kesungguhan Rara mendalami kesenian di Forum Lenteng mengantarkannya menjadi salah satu seniman muda yang berpartisipasi dalam program Manajemen Talenta Nasional (MTN Seni Budaya).  Ia terpilih untuk berpameran di Galeri Nasional Indonesia pada tahun 2025. Bersama partisipan lain, Rara berkolaborasi menciptakan tujuh puluh karya kolase untuk pameran bertema “Rule of The Game” tersebut.

Selain kolase, dirinya juga memproduksi sebuah karya audio-visual dengan bantuan olahan arsip video mengenai kebiasaan penumpang yang naik di atap gerbong kereta. Karya berjudul Denyut yang Berdebar ini memanipulasi visual beserta audionya dengan beragam teknik penyuntingan berdurasi lima menit. Bersama dengan Adli Zil Ikram sebagai kurator pendamping, Denyut yang Berdebar dimaknai sebagai siasat masyarakat dunia ketiga yang gagap dalam menghadapi modernitas – sebuah habitus yang tidak pernah hadir dalam keseharian dunia pertama.

Alih Wahana: Membawa Murakami dan Hesse ke Atas Kolase

Dalam pengkaryaannya, Rara kerap menjadikan kegemarannya terhadap kesastraan sebagai titik olah alih wahana. Salah satu karyanya berjudul 23 Shades of Gray merupakan karya pertama yang ia kerjakan dengan inisiasi dan otonomi penuh. Karya ini terinspirasi dari dua novel sastra yang dibacannya: After Dark karya Haruki Murakami dan Demian karya Herman Hesse.

Karya kolase ini dikerjakan di atas kertas A0 menggunakan potongan gambar hitam putih dari fotokopi majalah. Sebuah spektrum hitam dan putih membentang horisontal menjadi citra yang dibangun sebagai penolakannya terhadap dikotomi yang kaku; antara baik dan jahat, ataupun benar dan salah. Karya ini juga mentengahkan dilema moralitas pada area abu-abu yang hadir di antara spektrum.

Tema coming of age dalam karya ini menjadi refleksi pendewasaan Rara yang saat itu menginjak usia 23 tahun. Perasaan mawas diri adalah batu pijakannya dalam menanggapi persoalan moralitas di dalam karya ini agar tidak terjebak pada penghakiman sepihak. Baik dan buruk tidak selalu bisa menjadi alat ukur komparasi, terutama bagi dirinya terhadap orang lain.

“Ada pengalaman personal yang aku masukin disini selain basis sastranya. Tentang bagaimana aku di umur 23 tahun melihat kekauan dikotonomi baik dan jahat. Padahal dunia tidak semata-mata hitam dan putih. Jadi, ini bukan tempatku untuk menghakimi.”

Garis Tipis Kolaborasi: Mengadvokasi Suara Dari Kalibata Pulo.

Berkecimpung di dunia kesenian membawa Rara menjadi seniman yang mencoba selalu awas terhadap konteks politik dan sejarah. Ia selalu melihat bagaimana sebuah karya berkolerasi dengan konteks realitas di sekitarnya. Pencerahan yang dijemputnya saat ini membuat Rara jauh berbeda dibanding masa kuliahnya dulu. Ia menyadari bahwa praktik akademis yang hanya fokus pada tugas teknis tanpa membangun pemikiran kritis tidak akan memberikan signifikansi pada kerja keseniannya saat ini. Berkaca dari yang lalu, Rara tidak ingin menyia-nyiakan kesempatannya belajar di dunia kesenian selagi masih dikelilingi komunitas, fasilitator, dan teman yang mau mendukungnya.

Rara juga berpartisipasi di dalam sebuah projek partisipatoris di Kalibata Pulo. Di daerah langganan banjir tersebut, Rara memproduksi karya visual (sketsa, lukisan, dan video) dan meneliti suara terhadap keseharian subjek masyarakat disana. Dirinya berupaya untuk menggaungkan narasi personal yang kerap dianggap tidak penting dalam diskusi arus utama, sekaligus mengadvokasi subjektivitas warga yang sering diabaikan dalam naskah kebijakan publik.

Namun, kerja partisipatif ini menyisakan pertanyaan atas keterlibatannya di dalam masyarakat. Terdapat dilematika yang menghantui dirinya sebagai “orang luar” di tengah kerja sama dengan “penghuni asli”.  Untuk saat ini, Rara berkomitmen untuk memproduksi karya yang mampu mendistribusikan pengetahuan non-formal dan mengamplifikasi suara masyarakat kepada khalayak yang lebih luas.

Seni sebagai Alat  Mendistribusikan Pengetahuan dan Melayani Masyarakat

Sebagai seorang seniman, Rara menolak untuk  menjadi apolitis. Ia meyakini bahwa kesenian erat kaitannya dengan produksi pengetahuan. Kesadaran terhadap situasi kegentingan merupakan sebuah tantangan yang perlu dihadapi oleh seniman dalam menghadirkan kondisi ideal. Bagi Rara, keterbukaan pemikiran terhadap konteks politik dan sejarah harus tersedimentasi di dalam kepala untuk mendampingi keterampilan tangan dalam menciptakan estetika. Perjalanan kesenian juga perlu ditopang oleh kesadaran kolektif untuk mendistribusikan pengetahuan yang menyeluruh demi menambal ketidaktahuan. 

Lebih jauh, ia memandang seniman sebagai profesi yang melayani masyarakat. Karya seni baginya adalah alat yang komunikasi yang mampu menstimulus pertanyaan serta melahirkan pemikiran kritis. Setiap karya tidak harus melahirkan dampak besar atau instan, namun bagi Rara, menghadirkan pengetahuan baru adalah tugas utama seorang seniman.

“Kadang seniman suka merasa berbeda sendiri, padahal kita bagian dari masyarakat juga. Karya yang dibuat seniman tidak pernah lepas dari keresahanya sebagai bagian dari masyarakat. Ketika karya itu bertemu audiens bisa memberikan stimulus untuk bertanya lebih jauh, untuk jadi kritis. Jadi tidak sebatas estetika yang dilihat atau didengar saja, karena seni bisa jadi alat bertukar pengetahuan.” 

Setyo Manggala

Setyo Manggala

Setyo Manggala Utama adalah seorang peneliti, pelaku kreatif, serta seorang aktivis sosial. Dirinya pernah menjadi peneliti lepas di beberapa lembaga penelitian, seperti Asia Research Center dan Puskakom UI. Tahun 2016-2023, ia mengajar di program sarjana Departemen Ilmu Komunikasi Universitas Indonesia. Saat ini, tengah mengembangkan sebuah pendekatan interdisipliner yang mengaitkan antara kajian pembangunan dan kesenian melalui Komunitas Lensa Anak Terminal. Selain itu, Setyo juga tengah membangun ruang kreatif ramah anak yang inklusif bernama Stana Karsa.
Keep in touch with our news & offers

Subscribe to Our Newsletter

What to read next...

Comments

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *