Make your inbox happier!

Subscribe to Our Newsletter

aku masih butuh fakta ungkapan daripada keajaiban puitik

imin merengas pantek; kata itu pun pamungkassamar-samar tapi pasti, mengusik kaidahdewan sastra mengakuinyapantek jadi indeks perangai-perangaiyang sejak lama dicibir norma perangai-perangai yang “...kacau balau,” kata rengganispantek menyelip di dalam cerita-cerita iminyang puitik; berniat jadi obat “Obat mabuk!?” tebakmu...? bukan.“Obat bagi jiwa-jiwa yang ingin mati,” jawab imin.pantek = renungansementara itu, aku melihat ( dengan duga-duga kekhawatiran …

imin merengas pantek; kata itu pun pamungkas
samar-samar tapi pasti, mengusik kaidah

dewan sastra mengakuinya
pantek jadi indeks perangai-perangai
yang sejak lama dicibir norma
perangai-perangai yang “...kacau balau,”
kata rengganis

pantek menyelip di dalam cerita-cerita imin
yang puitik; berniat jadi obat

“Obat mabuk!?” tebakmu...?
bukan.
“Obat bagi jiwa-jiwa yang ingin mati,” jawab imin.

pantek = renungan

sementara itu, aku melihat
(
dengan duga-duga kekhawatiran
)
,
apakah gara-gara imin bilang pantek
caci-maki bisa jadi tengah disekulerisasi,
dirasionalisasi, dengan logika sastra?

imin jelas sudah
membongkar sejarah kebahasaan sebuah kata,
demi menemukan alteritas fungsinya.

pada imin
kebajikan naratif lantas memenuhi penggubahan sajak
dan caci-maki jadi petuah justru berkat keajaiban puisi.

tapi aku masih butuh
fakta ungkapan daripada keajaiban puitik;

aku masih butuh
fenomena makian daripada semantika sastrawinya.

karena pantek sekarang ini
pelan-pelan mulai dicerabut dari lingkaran tindak tutur
dan akan duduk nyaman di bangku puisi prosaik
dalam sikap-sikap afirmatif kepenyairan
sebagai representasi
“pengucapan dari suara-suara
di kondisi yang babak belur,”
kata imin,
tinggalah aku,
yang masih akan tetap hadir di sini,
bertiga saja
bersama dua
dari sekian banyak sejawat si pantek:
ngentot dan tai.

tetap awam, kami—aku, ngentot, tai—
ingin terus merayakan fakta ungkapan;
fakta makian.

berita-berita dalam dunia hari ini emang ngentot!!!
taaaaaeeeeeeeeeekkkkk!!!
Manshur Zikri

Manshur Zikri

MANSHUR ZIKRI (Pekanbaru, 1991) adalah seorang kritikus yang saat ini menetap di Yogyakarta. Ia menjabat sebagai editor utama di Jurnal Footage, sebuah media daring yang membahas sinema dan seni kontemporer. Zikri pernah bekerja sebagai kurator di Cemeti - Institut untuk Seni dan Masyarakat (2020–2022) dan menjadi anggota dewan juri pada ARKIPEL - Jakarta International Documentary and Experimental Film Festival edisi ke-9 (2022). Sejak tahun 2009, Zikri aktif sebagai salah satu anggota Forum Lenteng. Ia juga mengelola akun TikTok @ngomendotcom serta menjadi penggerak sejumlah kegiatan, seperti proyek bebunyian Situationist Under-Record, kelompok seni performans PROYEK EDISI, dan gerakan sinema Council of Ten. Di bidang seni performans, ia memegang peran penting dalam penelitian dan kajian artistik 69 Performance Club. Zikri juga menyenangi sastra, tentunya.
Keep in touch with our news & offers

Subscribe to Our Newsletter

What to read next...

Comments

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *