Semua kota lekat dengan pertumbuhan dan perkembangan, dan dibalik itu tersimpan cerita tentang pendewasaan. Seperti cerita film dengan genre “coming of age”, balutan aksara-aksara pendewasaan ini juga mengandung perjuangan dalam ruang-ruang pengalaman individualis. Tidaklah aneh kemudian kota diingat dengan masa-masa di sekolah, pergaulan atau nongkrong, bermain dan pencarian makna jati diri. Perkembangan seni di dalam …
Muhammad Ajis: Menangkap Jiwa Kota dalam Goresan Abstrak

Semua kota lekat dengan pertumbuhan dan perkembangan, dan dibalik itu tersimpan cerita tentang pendewasaan. Seperti cerita film dengan genre “coming of age”, balutan aksara-aksara pendewasaan ini juga mengandung perjuangan dalam ruang-ruang pengalaman individualis. Tidaklah aneh kemudian kota diingat dengan masa-masa di sekolah, pergaulan atau nongkrong, bermain dan pencarian makna jati diri. Perkembangan seni di dalam kota juga bisa dilihat dari kacamata narasi individu tersebut, menelusuri sejarah dari pertumbuhan, pengalaman, cerita sekolah yang diiringi dengan pengetahuan seni. Inilah nuansa yang dihadirkan oleh seorang tokoh seni, Muhammad Ajis seorang pelukis dan juga pegiat kebudayaan dari Depok.
Ajis lahir dan besar di Depok, dari SD sudah mengasah bakatnya sebagai pelukis lalu melanjutkan sekolah menengah kejuruan yang berfokus pada multimedia. Ketika kuliah mengambil juruan komunikasi visual dengan alasan agar masih bisa melanjutkan dan menambah ilmu dalam bidang seni. Memang tidak ideal, tetapi hal itu dijalankan dengan santai dan penuh percaya diri.
“itu anaknya kerja apa ya bu?” pertanyaan itu dilontarkan kepada orang tunya yang mencerminkan ketidaktahuan warga sekitarnya tentang profesi seni. Secara luas, ruang seni di Depok memang samar-samar, mengabur dan selalu diarahkan pada budaya lokal (yang keduanya bisa saja tidak selalu berkaitan). Ajis bercerita bahwa banyak keraguan dari berbagai orang dalam hidupnya untuk menaruh harapan pada seni Lukis. “emang menggambar-gambar itu bisa menghasilkan apa?” dia tambahkan pernah juga terlintas dalam hidupnya tentang skeptisme pada dunia seni, seolah-olah arah yang dia ambil adalah pertaruhan hidup.
Setelah lulus kuliah, dia memilih untuk mencari kebenaran seni dengan berguru kepada ahlinya. Diawali dengan dosennya, yang kemudian diarahkan kepada seorang maestro beraliran hiperrealistik. Disitu dia mulai untuk menetapkan sikap dengan memahami setiap nafas lukis, dengan memperhatikan warna, titik dan juga pandangannya terhadap ilmu seni. Pandangannya yang terus menerus dicarikan maknanya itu, mengarahkan pada sebuah pandangannya yg unik kelak yaitu pada aliran abstrak. “ternyata aliran abstrak ke realis itu boleh-boleh aja”. Pada saat itulah Ajis memilih untuk mendalami aliran seni lukis yang menyampaikan sifat sifat, abstrak.
Lukisan Ajis, selintas terlihat seperti sebuah titik-titik yang tidak memiliki bentuk, tetapi memiliki makna. Bisa saja perlu berpindah posisi melihat, lalu mencoba mendekat untuk bisa merasakan lebih rinci dan ternyata memang ada kontur atau permukaan yang tidak merata. Ada sebagian permukaan yang berbentuk lintasan koas, namun tanpa jejak warna, ada juga warna yang muncul dalam bentuk kehadiran goresan pastel. Bentuk-bentuk semacam ini membuat kita mempertanyakan diri, dan mencoba menghubungkan berbagai gagasan, pengalaman dan juga semua hal yang dipikirkan.

Lukisan abstrak yang dibuat oleh Ajiz mengandung berbagai rasa, emosi dan mungkin saja sebuah makna. Dia mencoba menangkap sifat-sifat objek yang kemudian dia fokuskan pada ujung koasnya, ada berbagai materi yang dia gunakan untuk menggambarkan sifat itu.
Depok adalah sebuah tempat yang menurut Ajiz menarik untuk dijelajahi, karena pada akhirnya dia bernaung di Studio Hanafi yang terletak di Sawangan. Dia tinggal di sebuah jalan dengan nama salah satu keluarganya yaitu Muchtar, tokoh di Depok.
Lingkungan dan juga suasana Kota Depok berubah dengan berbagai perkembangan seperti jalan, gedung dan bahkan arah rute baru yang juga bisa disamakan dengan dinamika individunya. Bagi Ajis, Kota Depok memiliki kualitas yang juga bisa dimaknai dalam penglamannya, dan itu bisa dilakukan olehnya sebagai pelukis.
Pengkaryaan lukisan abstrak oleh Ajis memiliki sumber dasar bahan yang juga terus dieksplor, semuanya adalah bagian yang menarik untuk dipertunjukan. Bahas lukisnya bervarian dari pastel lalu juga dari butiran debu, arang (charcoal), dan kuningan emas juga menjadi bagian dari lukisannya yang menarik.
Kota Depok melekat dengan identitas individunya, dan disaat itu juga dengan pengalaman yang bernaung di bawah Studio Hanafi itu bisa mendorong dia untuk menciptakan karya lukis yang orisinal dengan lingkungan. Konsep lukisnya didominasi dengan berbagai makna, dan salah satunya adalah “mendung” atau berhubungan dengan suasana gelap terang. Ketika ditanya prihal itu, makna itu juga sama eratnya dengan kondisi hati pelukisnya . Bahkan terkadang konsepnya itu dipadukan sehingga ada dinamika dalam memaknai lukisan itu. Disitulah karya-karyanya “hidup”, yang disimbolkan dengan berbagai cara tergambarkan dalam warna, sentuhan dan juga bentuk-bentuk. Bagi Ajis, semua bisa dimaknai berbeda, dimaknai ulang sehingga ketika ditanya konsep mendung ini dia memaknai sebagai “Sebentar lagi hujan”.
Selintas memang terlihat gelap, tetapi tidak selalu menunjukan sebuah suasana hati yang penuh kecemasan melainkan kedamaian. Konsepnya menumpahkan perhatian yang cukup, fokus yang tepat untuk dimaknai secara utuh-nya sedang berdinamika, individu atau seseorag yang terus tumbuh, berkembang dan berjuang.






