Pameran lintas disiplin kota Depok

Daraskota 2026

Menthari Ashia: Mencari Jalan Pulang ke Meja Makan

Disaat kebanyakan anak menggantungkan cita-cita menjadi seorang pilot, dokter, atau polisi, Menthari Ashia telah menentukan tekadnya menjadi seorang koreografer sejak berusia empat tahun. Sedari belia, ia tidak pernah absen mendampingi ayahnya berlatih. Kecintaannya pada dunia tari membuat Menthari Kecil lebih memilih duduk menyendiri di pojok ruang latihan menyaksikan sang ayah menari, ketimbang bermain bersama teman-temannya …

Disaat kebanyakan anak menggantungkan cita-cita menjadi seorang pilot, dokter, atau polisi, Menthari Ashia telah menentukan tekadnya menjadi seorang koreografer sejak berusia empat tahun. Sedari belia, ia tidak pernah absen mendampingi ayahnya berlatih. Kecintaannya pada dunia tari membuat Menthari Kecil lebih memilih duduk menyendiri di pojok ruang latihan menyaksikan sang ayah menari, ketimbang bermain bersama teman-temannya di rumah.

Lahir dari pasangan seniman besar di dunia tari, Hartati dan Boy G. Sakti tidak membuat koreografer yang akrab disapa Yayi ini mendapatkan ‘karpet merah’ perlakuan spesial dari orangtuanya. Di masa kanaknya, ia hanya sempat mencicipi bales singkat. Semasa remaja, ia tidak mendapat arahan dari orang tuanya untuk belajar di sanggar tari. Dirinya hanya bisa berlenggak-lenggok sesekali di kelas tari yang diampu pamannya, itupun tidak rutin karena terlampau jauh dari tempat tinggalnya.

Namun, semangatnya untuk menjadi koreografer tidak pernah padam. Sebuah momentum yang ditunggu sejak lama tidak disiakan ketika mendapatkan tawaran untuk melanjutkan studi khusus kesenian tari di SMKI Padang – sekolah tempat ibunya dulu menimba ilmu. Tanpa keraguan, Menthari memilih meninggalkan kenyamanan di Depok untuk kembali ke akar budayanya di kampung halaman.

Di Luar Standar Cantik: Menemukan Diri dalam Studi Penataan.

Upaya Menthari untuk mempelajari seni tari di sekolah formal penuh dengan kerikil. Dirinya merasa kelimpungan ketika mengawali perjalanannya di sana. Minder karena teman-temannya merupakan lulusan sanggar tari yang telah menguasai Tari Rantak – tari kreasi ikonik karya neneknya sendiri, maestro tari Gusmiati Suid. Sebagai cucu dari “Sang Pembaru Tari Minang”, beban ekspektasi itu terasa nyata. Dirinya kerap menangis karena dicap tidak bisa menari dan kerap dibanding-bandingkan dengan nama besar pendahulunya.  

Tekananan kian membuat sesak ketika dirinya berhadapan dengan standar kecantikan fisik yang melekat pada penari tradisi, kemewahan yang dirasa tidak dimiliki olehnya. Sterotip bahwa penari harus tinggi dan cantik hampir menggugurkan semangatnya belajar. Gurunya menganggap dirinya tidak dilahrikan membawakan tarian tradisi Minang karena fisiknya dinilai kurang bersaing.

“Di SMKI itu setiap bulan ada acara menari. Aku enggak pernah terpanggil karena aku pendek. Standarnya kan harus tinggi dan cantik. Sementara aku merasa muka pas-pasan, tinggi tidak, nari pun belum sebagus mereka. Aku tidak pernah jadi representasi penari,” kenang Menthari.

Bukan Menthari namanya apabila terjerembab di dalam tekanan. Dirinya fokus melihat kelebihan demi melompati aral melintang. Dengan menekuni studi ‘penataan’, ia kembali menemukan potensi diri di dalam penciptaan koreografi. Kecintaannya pada tari kembali membuncah. Tak hanya gemilang dalam studi akademik, Ia membuktikan kapasitas kepenimpinannya dengan terpilih sebagai ketua OSIS.

Hasrat untuk terus berkembang mengantarnya untuk melanjutkan studi di ISI Surakarta. Disana dia kembali beradaptasi untuk mempelajari pakem gerak yang sama sekali berbeda. Perempuan berdarah Minang ini mengalami kesulitan untuk mempelajari tiga karakter pakem gerak Jawa; Alus, Putri, dan Gagah. Semangat belajarnya dilewati bersama dengan teman-temannya lewat kelas tambahan malam. Kesabarannya berbuah hasil, lewat dukungan dari temannya, Menthari berhasil menguasai pakem gerak Tari Jawa yang gigih dipelajari olehnya.

Surakartist dan Semangat Kolektif: Ruang Tumbuh Seniman Muda.

Di Surakarta, Menthari tak hanya mengasah teknis, tapi juga membangun kekerabatan. Bersama rekan-rekan sesama seniman muda, ia merintis sebuah komunitas bernama Surakartist. Di dalam komunitas ini, mereka mengadakan kegiatan bernama Asal Lokal sebagai ruang pertunjukan dan pameran lintas disiplin, dari seni rupa, tari, teater, hingga musik.

Melalui Asal Lokal, Surakartist menjelma sebagai ruang berkembang bagi para seniman muda. Tidak melulu dengan modal yang besar, Menthari bersama koleganya mengaktivasi kegiatan berbasiskan kerja sama mutual dengan kafe-kafe yang tersedia. Surakartist menarik para pengunjung, sementara kafe menyediakan tempat kegiatan. Melalui skema ini, dirinya tidak hanya berhasil membuktikan diri sebagai seorang seniman muda, namun juga sebagai agensi penggerak kolektif kesenian.

Pengalamannya di Surakartist mendorong keberanian Menthari untuk membuat panggung pertunjukannya sendiri yang berjudul ‘Pulang’ – adaptasi dari karya penciptaan akhirnya selama masa studi.  Pertunjukan perdananya ini mendapatkan suksesi dari rekan-rekannya dengan kesungguhan dedikasi. Berbekal diskusi dan keterbukaan, Menthari berhasil mengumpulkan tim solid untuk mengisi semua pos departemen pertunjukan, mulai dari penampil, artistik, manajemen, komposer musik, dan juga dokumentasi. Kesuksesan pertunjukan ini bedampak besar sebagai ajang pembuktian diri bagi Menthari dan juga rekan-rekannya sebagai seniman yang mandiri.

“Itu pengalaman berharga banget. Baru lulus sarjana tapi sudah berani bikin pertunjukan sendiri. Aku tidak mau hanya menunggu wadah atau undangan. Siapa juga yang mau mengundang anak baru lulus, kan? Yang baru lulus juga banyak,  siapa gue..  Jadi aku merasa ini sakit juga bikin pertunjukan sendiri,” ujarnya tegas.

Meja Makan: Saksi Bisu Kerinduan dan Kehilangan.

Di antara jarak yang terbentang dari tempatnya menimba ilmu, hadir pertanyaan mengenai tempatnya kembali untuk pulang.  Karya ‘Pulang’ merupakan hasil refleksi Menthari dalam menemukan tempat yang dinamakan rumah. Baginya, rumah bukan sekadar bangunan, melainkan interaksi yang terjadi di meja makan – titik temu yang menjadi saksi bisu atas segala kejadian penting bersama santapan yang terhidang.

Meskipun rindu, pulang tidak selalu menghadirkan rasa nyaman. Ada keramaian yang hilang namun tidak kunjung dia temukan kembali di meja makan. Lewat gerak, ia menyuarakan kejujuran tentang rasa rindu dan juga kehilangan.

“Aku mencari ‘pulangku’ itu ke mana sebenarnya. Secara tidak langsung aku melihat, oh, pulangku ternyata di meja makan. Tapi kadang aku juga sebenarnya tidak merasa pulang saat berada di meja makan itu.”

Dalam mengantarkan karya ‘pulang’ ke ruang pertunjukan, Menthari selalu membuka ruang dialog bersama para rekannya. Mendapatkan interpretasi berbeda sebagai umpan balik merupakan bagian dari proses berkeseniannya. Interaksi dan ikatan emosional merupakan hal penting bagi Menthari sebelum membangun kerja sama. Ia menjadikan ‘pulang’ sebagai pertanyaan terbuka bagi penonton dan rekan kerjanya, sebuah ruang untuk mencari jawaban bersama atas makna sebuah kepulangan.

Depok: Lebih dari Sekadar Tempat Beristirahat

Bagi Menthari, Depok hanya dimaknai sebagai tempat istirahat semata bagi sebagian besar orang. Banyak orang mengambil jalan pintas dengan menempatkan Jakarta sebagai pilihan utama berpergian. Akibatnya, banyak potensi manusia dan kreativitas yang menguap begitu saja ke ibu kota. Menurutnya, banyak hal yang dapat dikerjakan bersama dengan talenta yang berkembang di kota ini.

Menthari melihat titik terang dari keragaman seniman yang bermukim di Depok. Temuannya ini memunculkan kembali ide untuk mengaktivasi ruang pertunjukan seperti yang pernah dikerjakan di Surakarta. Baginya, membuat pertunjukan di Depok jauh lebih masuk akal dan nyaman secara kolektif dibandingkan Jakarta yang serba komersial. Ada optimisme besar yang hadir darinya: bahwa seorang seniman muda tengah merencanakan sebuah pertunjukan dari salah satu sudut ruang di Kota Depok.  .

“Potensi Depok itu besar untuk bikin pertunjukan sendiri karena di Jakarta semuanya berbayar mahal. Di Depok aku merasa lebih nyaman, mungkin karena aku sudah mengenal karakter kotanya.”

Setyo Manggala

Setyo Manggala

Setyo Manggala Utama adalah seorang peneliti, pelaku kreatif, serta seorang aktivis sosial. Dirinya pernah menjadi peneliti lepas di beberapa lembaga penelitian, seperti Asia Research Center dan Puskakom UI. Tahun 2016-2023, ia mengajar di program sarjana Departemen Ilmu Komunikasi Universitas Indonesia. Saat ini, tengah mengembangkan sebuah pendekatan interdisipliner yang mengaitkan antara kajian pembangunan dan kesenian melalui Komunitas Lensa Anak Terminal. Selain itu, Setyo juga tengah membangun ruang kreatif ramah anak yang inklusif bernama Stana Karsa.
Keep in touch with our news & offers

Subscribe to Our Newsletter

What to read next...

Comments

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *