Pameran lintas disiplin kota Depok

Daraskota 2026

Haikal Azizi: Kembalinya Pengembara Bunyi ke Rumah Bernama Depok

Semua berawal dari pertemuan kecil di Jatinangor, sekitar tahun 2017. Kami berbincang biasa saja, tentang musik, kampus seni, dan Bandung. Waktu itu saya sedang tergila-gila pada Sigmun dan Bin Idris. Buat saya, Haikal dalam dua proyek itu sangat cemerlang. Lalu di tengah obrolan, saya baru tahu sesuatu yang bikin dada rada terhenyak. Haikal tinggal di …

Semua berawal dari pertemuan kecil di Jatinangor, sekitar tahun 2017. Kami berbincang biasa saja, tentang musik, kampus seni, dan Bandung. Waktu itu saya sedang tergila-gila pada Sigmun dan Bin Idris. Buat saya, Haikal dalam dua proyek itu sangat cemerlang. Lalu di tengah obrolan, saya baru tahu sesuatu yang bikin dada rada terhenyak.

Haikal tinggal di Depok.

Bukan cuma tinggal, bahkan hanya berjarak beberapa rumah dari tempat saya tinggal. Di kepala saya, dan mungkin banyak orang, Haikal dan Bandung seperti satu kesatuan. Sigmun lahir di sana. Tumbuh di sana. Bergema di sana. Seolah-olah ia milik kota itu sepenuhnya. Orang lupa bahwa setelah semua itu, ia pulang. Pertemuan itu membawa saya ke hari ini, ketika saya bertemu kembali dengan Haikal di sela-sela kegiatan manggungnya, dan kami kembali berbincang tentang kota, musik, dan bagaimana ruang sangat penting dalam proses eksplorasi kreatif.

“Gue ngerasa tumbuhnya secara artistik di Bandung. Jadi pas balik ke Depok tuh… agak sungkan. Gue nggak ngerasa membesarkan kota ini juga.”

Haikal Azizi

Depok menjelma menjadi kota yang tidak pernah memiliki panggung. Penggalan kalimat itu menjelaskan bagaimana gang sempit yang terus menerus kita lalui, tapi tidak pernah benar-benar kita huni sebagai tempat lahirnya karya. Bukan karena kota ini tidak punya kehidupan, tapi karena kehidupan di sini terlalu nyata, egois, acuh, terlalu mentah untuk diolah menjadi cerita.

Di kota seperti itu, Haikal Azizi tumbuh.

Haikal yang tinggal di kota itu, sudah hidup dalam gema doa dan selawat subuh bersama riuhnya kota Depok, resonansi suara yang khas ketika kita tumbuh di gang-gang kota ini. Suara itu membentuk aspek spiritual dalam cara yang lebih gelap dan repetitif, gema yang berulang, seperti loop yang terus berlanjut. Baginya, bukan sekadar memori masa kecil. Itu pondasi sonik. Mesin dasar. Resonansi pertama.

“Hal yang mungkin dipengaruhi Depok ke gue, lebih ke kehidupan gue di rumah kali ya, sama bokap sholawatan subuh-subuh, dan rumah kan deket masjid, jadi banyak mendengar (ayat-ayat) juga.”

Dan mungkin di situlah semuanya bermula: repetisi. Repetisi doa. Repetisi hari. Repetisi kota yang bergerak walau tetap sama saja. Ketika Haikal mulai menemukan dirinya sendiri, Depok tidak semerta-merta berubah jadi rahim artistik. Justru, Bandung yang jauh menjadi tempat karyanya lahir, selain memang kota tempat ia mengenyam pendidikan seni, Bandung menjadi wadah di mana Sigmun merangkak keluar dan menggema, di mana ia menemukan konteks kreatif yang tidak ia temukan di sini.

Haikal Azizi, Sigmun/Bin Idris mengisi gigs di Pamitnya Meeting (Dheny Rhestu/Kolase Kultur)

Lalu ada Bin Idris, berbeda dari Sigmun, proyek ini justru sepenuhnya lahir dan diproduksi di sini. Di bilik kamar. Di ruang domestik yang mungkin terlalu biasa untuk dianggap penting. Dari situ lahir lagu-lagu yang lebih telanjang, lebih langsung, lebih rentan. Kita bisa menemukan bagian yang dekat dalam lagu “Heartache (Shall Not Survive)”, Haikal menuliskan kalimat yang sangat lantang di awal lagu, “Allah, I feel awful today.”

Itu bukan baris lirik yang mencari sensasi. Itu terdengar seperti pengakuan yang tak sengaja direkam. Seperti seseorang yang berbicara ke langit-langit kamar. Ada jarak antara iman dan kelelahan, antara keyakinan dan rasa tidak baik-baik saja. Dan jarak itu syarat akan “kedepokannya”. Sebuah kota yang religius tapi juga melelahkan, sebuah kota yang sibuk tapi sunyi.

“Gue ngerasa outsider di kota sendiri.”

Kalimat itu fakta, terasa aman di lidah, bahkan nyaman hinggap di telinga.

Saya tahu, banyak dari kita yang merasa tak memiliki ruang di kota ini. Memang, tidak ada ekosistem yang benar-benar menopang, banyaknya dalam skena alternatif. Justru karena itu, karya-karya Haikal mampu membangun ruangnya sendiri, dengan cara perlahan, dan muncul dari sebuah petak. Haikal Azizi mungkin masih merasa asing di kota tempatnya lahir. Tapi, dari bilik itu, dari ruang yang terlalu domestik untuk dianggap revolusioner, ia membuktikan bahwa kota ini tak perlu melulu-mesti-wajib menyediakan panggung. Cukup menyediakan dinding untuk memantulkan suara. Dan suara itu, kalau cukup jujur, akan menemukan langkahnya sendiri.

Tapi, pertanyaannya, sampai kapan, Depok?

Damasara Rinu Buhaliawan

Damasara Rinu Buhaliawan

Merupakan pegiat budaya memulai aktivitas menulis sejak masa kuliah. Ia berangkat dari media Goodshuffle, Living Society dan pergerakan kolektif di Teras Kolektif—sebuah kolektif musik yang turut membentuk skena independen hari ini. Ia kini terlibat dalam berbagai proyek budaya di Pamitnya Meeting, ruang komunal tempat seni, obrolan, dan praktik lintas disiplin saling bertemu. Salah satu kegiatannya bernama “Jump in Puisi” yang merawat ingatan bagaimana puisi menjadi sebuah medium cerita dan arsip dari kehidupan. Di luar itu, ia bekerja sebagai Digital Officer di Greenpeace Indonesia.
Keep in touch with our news & offers

Subscribe to Our Newsletter

What to read next...

Comments

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *