Setelah 3 tahun meniti jalur musik independen, Akar Teki akhirnya menyuarakan keresahan kolektifnya lewat sebuah single terbaru bertajuk Lukisan Kampung. Dirilis sebagai lanjutan dari visi mereka yang berpijak pada balada ekologis, lagu ini menjadi potret puitik tentang pergeseran ruang hidup, terutama di wilayag pedesaan, akibat derasnya pembangunan. Akar Teki merupakan proyek musik kolektif dari Depok …
Akar Teki Rilis Single “Lukisan Kampung”: Balada Rindu dan Kehidupan yang Tergusur

Setelah 3 tahun meniti jalur musik independen, Akar Teki akhirnya menyuarakan keresahan kolektifnya lewat sebuah single terbaru bertajuk Lukisan Kampung. Dirilis sebagai lanjutan dari visi mereka yang berpijak pada balada ekologis, lagu ini menjadi potret puitik tentang pergeseran ruang hidup, terutama di wilayag pedesaan, akibat derasnya pembangunan.
Akar Teki merupakan proyek musik kolektif dari Depok yang telah hadir sejak 10 November 2022, beranggotakan SM. Dafa (vokal dan rhythm), Faizi Bahrul (violin), dan Rifky Fadilah (lead guitar), serta beberapa peran pendukung di balik layar. Dengan warna musik yang melintasi pop alternatif, folk, dan balad, mereka menyajikan narasi-narasi yang menyentuh tema lingkungan, sosial, budaya, hingga spiritualitas.
Nama “Akar Teki” sendiri diambil dari filosofi tumbuhan liar teki yang tumbuhannya akan tetap hidup dan kuat meskipun bagian atasnya ditebang. Akar Teki adalah metafora tentang semangat mereka untuk terus melahirkan karya. Selain single ini, tampaknya judul-judul lainnya yang sering dimainkan dalam tiap performance mengakar pada realitas sehari-hari masyarakat marginal.
Single Lukisan Kampung adalah nostalgia yang lirih tentang kampung halaman yang kini telah berubah rupa. Dibuka dengan suara kicauan burung dan gitar, dengan awal bait sederhana: “Duduk bersama teman.. hal yang tak mudah terlupakan..”, lagu ini perlahan menggiring pendengar ke lanskap masa kecil yang gembira. Namun semua itu hanyalah kenangan, karena kini: “Yang tersisa tinggalah cerita.. pohon tergantikan bata.. bangunan hampir merata.. juga desa berubah menjadi kota..”
Jika kita hanya membaca lirik, lagu ini terlihat berbicara tentang kehilangan ruang di masa kecil. Tapi ketika kita lihat lebih dalam, kehilangan ini bisa mengarah ke makna hidup komunal yang dulu begitu kental di masyarakat kita, terutama di kampung-kampung. Bisa dibilang merefleksikan perubahan struktur sosial dan ekologis yang kian menyudutkan mereka yang hidupnya berpaut pada alam.
Di tengah maraknya musik yang cenderung eskapistik, Akar Teki tampil sebagai pengingat bahwa seni bisa menjadi alat dokumentasi sosial. Lukisan Kampung memperlihatkan bagaimana modernitas kerap datang dengan harga yang mahal, meminggirkan alam, memisahkan kami yang telah berkomunitas dengan baik, dan sering menghapus jejak-jejak kehidupan yang dulunya begitu dekat dengan “tanah”.
Mungkin musik bagi Akar Teki adalah cara untuk terus menghidupi “akar” itu sendiri, akar dari memori, akar dari kampung, akar dari kehidupan yang tak bisa dibungkam oleh tembok-tembok kota. Dengan lagu ini, kami merasa mereka mengajak kita semua untuk sejenak menengok ke belakang, dan mungkin bertanya: kampung macam apa yang ingin kita wariskan untuk generasi mendatang?






