Pameran lintas disiplin kota Depok

Daraskota 2026

Turbo Fun Club dan Kesenangan yang Gak Perlu Minta Izin 

Kalau kita berbicara soal ruang, ruang itu ibarat peti mati yang kosong, pernah benar-benar mati karena kekurangan mayat. Ia mati ketika orang-orang di dalamnya terlalu terbiasa menunggu. Menunggu ruang yang “layak”. Menunggu audiens yang “cukup”. Menunggu momentum yang “tepat”. Dalam logika ini, inisiatif selalu ditunda, dan kreativitas dikondisikan untuk hadir hanya ketika semua persyaratan terpenuhi. …


Kalau kita berbicara soal ruang, ruang itu ibarat peti mati yang kosong, pernah benar-benar mati karena kekurangan mayat. Ia mati ketika orang-orang di dalamnya terlalu terbiasa menunggu.

Menunggu ruang yang “layak”. Menunggu audiens yang “cukup”. Menunggu momentum yang “tepat”. Dalam logika ini, inisiatif selalu ditunda, dan kreativitas dikondisikan untuk hadir hanya ketika semua persyaratan terpenuhi. Masalahnya, prasyarat itu hampir tidak pernah benar-benar datang. 

Akibatnya, ruang-ruang yang seharusnya “tersedia” akhirnya diisi oleh aktivitas yang repetitif: datang, mengonsumsi, pulang. Kita menjadi penonton yang baik, tapi pelaku yang pasif.

Dalam konteks itulah, kemunculan kolektif-kolektif saat ini, seperti Turbo Fun Club menjadi relevan. Bukan karena ia menawarkan skala besar atau visi yang rapi, melainkan karena ia memotong kebiasaan menunggu itu sendiri. Ia lahir dari keputusan sederhana, bahkan cenderung impulsif untuk mulai, tanpa menunggu legitimasi atau proses pendanaan yang cocok. 

“Event-first thinking” : harusnya sebuah ruang tidak perlu menunggu bentuk ideal untuk bisa digunakan. Sebaliknya, ruang justru diciptakan melalui peristiwa yang terjadi di dalamnya. Pasar bisa diciptakan kalau kata Efek Rumah Kaca.

Seorang musisi yang namanya jarang dicatat pernah merumuskan ini secara sederhana: “Tempat paling hidup bukan yang paling bagus, tapi yang dipakai.” Pernyataan ini mungkin terdengar banal, tetapi justru di situlah kekuatannya. Ia menggeser fokus dari infrastruktur ke partisipasi. Dan bahwa merayakan sebuah ruang adalah sebuah hobi, ya betul hobi yang mahal. Dan hal itu haruslah disadari dengan membangun kerangka ekonomi alternatif yang mandiri.

Turbo Fun Club bekerja dalam logika tersebut. Dengan memanfaatkan ruang kecil seperti pojok Kios Warga yang terlihat hanya sebuah ruko biasa di bilangan kota antah berantah bernama Depok, mereka menunjukkan bahwa keterbatasan bukanlah penghalang utama. Justru dalam kondisi yang tidak sempurna, perangkat seadanya, skala kecil, audiens terbatas, terbuka ruang untuk interaksi yang lebih langsung dan jujur.

Hal ini juga menantang cara kita memahami kesenangan dalam konteks urban. Selama ini, kesenangan cenderung diposisikan sebagai sesuatu yang dikonsumsi: dibeli, dipilih, dan dinikmati secara pasif. Namun, dalam praktik kolektif seperti ini, kesenangan diproduksi bersama.

Sebuah kutipan yang beredar di zine-zine bawah tanah era 1970-an pernah menyatakan: “If you’re only having fun, you’re doing it wrong. Fun is something you make, not something you buy.” Meskipun asal-usulnya tidak jelas, gagasan ini menemukan relevansinya dalam praktik-praktik kontemporer seperti yang dilakukan Turbo Fun Club. 

Dalam Turbo Fun Club edisi #1 menunjukkan hal tersebut, bahwa batas antara pelaku dan penonton dapat dinegosiasikan ulang. Orang datang tidak hanya untuk menyaksikan, tetapi juga untuk mempertimbangkan kemungkinan kontribusi mereka sendiri. 

Penampil datang membawa merch dan rilisan mereka, penonton bisa mensupport dengan membeli, atau sekedar urunan dengan nominal yang tidak ditentukan, dan disesuaikan dengan keinginan masing-masing. 

Karena pada dasarnya, ketika berbicara dengan kacamata para penampil, mereka meluangkan waktu, tenaga, dan materi, memang untuk bersenang-senang, dan alangkah lebih baik kita sebagai penikmat bisa memberikan apresiasi lebih atas apa yang mereka tampilkan dalam bentuk karya. 

Dalam kerangka ini, skala kecil tidak lagi dipahami sebagai keterbatasan, melainkan sebagai metode. Ruang yang intim memungkinkan partisipasi yang lebih merata dan mengurangi jarak antara individu. Tentu saja, pendekatan ini tidak tanpa tantangan. Keterbatasan sumber daya, inkonsistensi partisipasi, dan ketiadaan struktur formal dapat menjadi hambatan. Namun, justru dalam ketidakstabilan tersebut terdapat ruang untuk eksperimen dan adaptasi. 

Yang lebih penting, inisiatif seperti Turbo Fun Club berfungsi sebagai pengingat bahwa kehidupan kota tidak hanya ditentukan oleh pembangunan fisik atau program formal, tetapi juga oleh praktik-praktik kecil yang muncul dari obrolan sehari-hari. Ia menunjukkan bahwa produksi ruang kultural tidak selalu membutuhkan institusi besar, melainkan cukup dengan sekelompok orang yang bersedia mengambil inisiatif. 

Pada akhirnya, pertanyaan yang diajukan bukanlah tentang keberlanjutan kolektif ini dalam arti konvensional, melainkan tentang respons yang ia picu. Apakah ia akan tetap menjadi fenomena yang ditonton, atau menjadi pemicu bagi inisiatif-inisiatif lain? 

Pilihan tersebut tidak berada pada kolektif itu sendiri, melainkan pada orang-orang yang bersinggungan dengannya. 

Karena ruang, pada dasarnya, tidak hidup dari apa yang tersedia. Ia hidup dari apa yang dilakukan oleh mereka yang ada di dalamnya. 

Damasara Rinu Buhaliawan

Damasara Rinu Buhaliawan

Merupakan pegiat budaya memulai aktivitas menulis sejak masa kuliah. Ia berangkat dari media Goodshuffle, Living Society dan pergerakan kolektif di Teras Kolektif—sebuah kolektif musik yang turut membentuk skena independen hari ini. Ia kini terlibat dalam berbagai proyek budaya di Pamitnya Meeting, ruang komunal tempat seni, obrolan, dan praktik lintas disiplin saling bertemu. Salah satu kegiatannya bernama “Jump in Puisi” yang merawat ingatan bagaimana puisi menjadi sebuah medium cerita dan arsip dari kehidupan. Di luar itu, ia bekerja sebagai Digital Officer di Greenpeace Indonesia.
Keep in touch with our news & offers

Subscribe to Our Newsletter

What to read next...

Comments

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *