Pameran lintas disiplin kota Depok

Daraskota 2026

Nino Bukir: Laboratorium Rasa dan Ritme

Mungkin, untuk yang ke-sejuta kalinya, bocah lelaki itu meminta Ayahnya menyalakan lagu-lagu “Jesus Christ Superstar” di dalam mobil. Musikal itu memang tengah digarap oleh sang Ayah untuk pertunjukan musikal sebuah sekolah. Rupanya, melodi-melodi progressive rock opera itu tidak hanya mengendap di telinga sang Ayah; ia meloncat dengan degil ke telinga anaknya, bergelayutan di sana, dan …

Mungkin, untuk yang ke-sejuta kalinya, bocah lelaki itu meminta Ayahnya menyalakan lagu-lagu “Jesus Christ Superstar” di dalam mobil. Musikal itu memang tengah digarap oleh sang Ayah untuk pertunjukan musikal sebuah sekolah. Rupanya, melodi-melodi progressive rock opera itu tidak hanya mengendap di telinga sang Ayah; ia meloncat dengan degil ke telinga anaknya, bergelayutan di sana, dan menyihir pemiliknya. Gawat. Sejak kecil, Dick Perthino Sebastian sudah keranjingan musik dan teater.

Lampu Panggung di Buaian

Seniman multidisiplin yang dikenal dengan nama Nino Bukir ini memang menganggap dunia kesenian–khususnya seni pertunjukan–sebagai rumah. Tampil adalah adalah sesuatu yang begitu alami; sejak kecil, setiap Natal, ia selalu menyiapkan sebuah pertunjukan kecil untuk dipertontonkan pada keluarga besarnya. Ia akan bercerita pada kedua orangtuanya tentang ide pertunjukannya, dan mereka akan memfasilitasi sebaik mungkin. Berbagai gimmick dan pertunjukan panggung ia cicipi, termasuk sulap. 

Sang Ayah, Ohan Adiputra, memang berkecimpung di dunia seni pertunjukan, khususnya sebagai pegiat teater dan musisi. Sejak kecil Nino menyerap apa saja yang dilakukan oleh sang Ayah dan dibiarkan mengeksplorasi. Ia seperti seorang anak yang tersirap begitu dalam pada sebuah permainan baru, asyik meneliti setiap sudutnya, dan mencoba berbagai kemungkinan penciptaan dengannya tanpa rasa takut. Seni pertunjukan terasa bagaikan taman bermain yang aman baginya.

Meski Wita–Ibundanya yang berprofesi dokter gigi–tidak berkecimpung langsung di dunia kesenian, ia memiliki sebuah peraturan; semua anaknya harus memiliki tiga survival skill dalam hidup, yakni berenang, berbahasa Inggris, dan bermain musik. Ia tidak pernah menjelaskan alasannya pada saat itu, namun ini adalah bukti betapa majunya pemikiran sang Ibu; berenang jelas merupakan salah satu olahraga yang krusial bagi kelangsungan hidup, bahasa Inggris membangun mental internasionalnya, dan hingga hari ini, begitu banyak jurnal ilmiah yang membahas betapa bermain musik memiliki manfaat menyeluruh bagi perkembangan mental, fisik, sosial, dan kognitif. Bersama-sama, ketiga skill ini memaksimalkan kinerja otak yang seimbang.

Singkat cerita, Nino mencicipi berbagai alat musik melalui bermacam-macam les; piano saat ia TK, gitar saat kelas 3/4 SD. Namun tak ada yang kena di hati. Ia baru menemukan cintanya di kelas 5 SD, saat mencoba les drum di Purwacaraka. Tabuhan drum yang keras dan berdentum seolah membaur pada jati diri Nino dan membuatnya berkata “Ini nih gue!” Lalu, ketika sang Pakde menghadiahinya drum set agar ia dapat berlatih di rumah, kegandrungannya pun tak dapat dihentikan lagi. Nino pun membentuk band pertamanya di usia SD, sedangkan perkusi–yang kini menjadi spesialisasinya dalam dunia musik–baru mulai ia dalami di usia SMP. 

Memasuki usia remaja tersebut, ia mulai mencicipi lingkup-lingkup baru; ia telah lulus dari predikat “anak-anak di buaian” sebagai seorang pribadi muda pegiat kesenian yang berbakat, berani, didukung, dan dihargai prosesnya oleh keluarga.

Teater dan Tetabuhan

Bagi Nino, teater dan musik sama harganya. Menggumuli yang satu tidak berarti mencampakkan yang satunya; keduanya bertaut dalam satu degup yang sama. Hubungan kedua dunia itu menjadi semakin erat ketika ia mulai bergabung dengan Teater Koma sebagai pemusik sejak 2009, dalam produksi “Republik Petruk”, disutradarai oleh N. Riantiarno.

…Menetas di laut lepas, berenang ke kolam kecil…

Nino ternyata tak pernah merasa sebagai bagian dari Depok, namun dengan bangga memperkenalkan dirinya sebagai penduduk desa Limo. Meski secara administratif, Limo adalah bagian dari Depok, tapi ia lebih akrab dengan debu-debu Cinere dan keringat Jakarta. Sebagian besar giat keseniannya pun memang lebih kerap berlatar Jakarta, seperti tempatnya menghabiskan masa remaja dan dewasa muda.

Ada yang unik dalam pengalamannya. Jika beberapa orang memulai pengalaman berkeseniannya di lingkup sekolah sebelum terjun ke lingkup profesional, Nino justru sebaliknya. Bagai ikan sidat yang terlahir di kedalaman laut, kemudian berenang ke sungai atau kolam untuk tumbuh, Nino justru masuk ke lingkup profesional terlebih dahulu sebelum akhirnya bergabung dengan grup teater di lingkup sekolah; Teater Topeng SMA N 97 Jakarta. 

Seperti banyak grup teater sekolah, sekolah tidak menyediakan tempat latihan. Maka mereka berlatih di mana saja; dalam kasus Nino, di sebuah TK selepas jam pulang. Tempat latihan selalu dikelilingi oleh penonton-penonton kecil–”Mahkluk Sore”, mereka menyebutnya–wajah-wajah berjarak dekat dengan mata yang selalu menyimpan tanya. Inilah yang turut membentuk mental pertunjukan Nino dan kawan-kawannya. Pertukaran energi dengan para penonton yang cair dan spontan ini membawa manfaat yang sangat besar, apalagi ketika suatu saat mereka memainkan lakon berlatar panti asuhan, yang tentunya dipenuhi oleh anak-anak. Ajang latihan pun merangkap kesempatan observasi.

Seiring kedewasaan yang semakin bertumbuh, di kolam ini Nino menyerap banyak ilmu kehidupan. Layaknya mayoritas pegiat teater Nusantara, Nino menerima didikan militansi kesenian; komitmen, semangat perjuangan, dan disiplin–bahwa sebuah pertunjukan dan ruang-ruangnya adalah milik seluruh pekerja, berikut tanggung jawabnya. Pemain tidak serta-merta mengecap gemilangnya cahaya panggung tanpa menjaganya; menyapu dan mengepelnya sebelum dan sesudah latihan, memperhatikan kondisinya, menyadari keutuhan ruangnya. “Ritual” inilah yang kemudian ia bawa ke mana pun ia pergi, termasuk saat kembali berproduksi di Teater Koma, yang kini ia tapaki sebagai pribadi dewasa.

Kesenian bertumbuh menjadi keluarga yang semakin besar ketika ia aktif bergiat di Bulungan sebagai anggota Kelompok Pojok, tempatnya kini aktif sebagai komposer. Lagi-lagi jalinan keduanya mengantarkannya pada pertemuan antara tubuh, bunyi, dan ruang. “Gue memandang panggung sebagai laboratorium rasa dan ritme tempat gue bisa membaca dunia,” ujarnya. 

Legasi, Lika-Liku, dan Larung

Rupanya, rasa kecil hati pun pernah melanda Nino. Sebagai seorang seniman generasi kedua yang juga berkecimpung di bidang yang sama dengan sang Ayah–teater dan musisi, khususnya memainkan perkusi–Nino pernah merasa bahwa sekeras apa pun ia mengeja namanya sendiri, ia tak akan pernah keluar dari gaung nama Ohan Adiputra; jadi umbra di balik cahaya, jadi lindap di balik lantang.

Namun sesungguhnya itu adalah proses pertumbuhan yang dialami oleh nyaris semua orang, baik seniman atau bukan, khususnya anak dari seseorang yang dianggap memiliki nama. Pada masa pertumbuhan, fase ingin menanggalkan tali pusat adalah fase yang wajar, sebesar apa pun kesadaran kita akan peran krusialnya dalam tiap tarikan napas. Itu tidak mutlak menjadikannya seorang anak yang khianat, namun mutlak menjadikannya manusia yang bertambah usia. Lalu, seiring bertumbuh dan bertambahnya kebijaksanaan, ia pun menyadari bahwa memang tak akan ada yang bisa mengubah fakta yang ditorehkan oleh pohon keluarga; maka afiliasi yang orang buat berada sepenuhnya di luar kendalinya. Ia akan terus berkarya saja, seperti memang kecintaannya, dan dengan hati merdeka membiarkan langit menyimpan kemungkinan bahwa suatu saat nanti, bunyi namanya sendiri juga akan bahana–tanpa perlu dibandingkan dengan siapa-siapa.

Piala Berwajah Bhinneka

Nino saat diwawancarai Sekar (Dok. Denny Rhestu/Kolase Kultur)

Perjalanan Nino membawanya pada banyak ladang, di antaranya, piala berhasil ia bawa pulang; Aktor Pendukung Terbaik, Penata Musik Terbaik, dan nominasi Sutradara Terbaik di Festival SLTA. Ia juga berhasil memboyong predikat Monolog Terbaik pada Peksiminas 2018. 

Nino mengingat, ada satu peran yang baginya paling menantang, yakni dalam sebuah produksi yang dibawakannya bersama Pojok. Mereka membawakan pertunjukan bermodel lecture berbasis riset yang berjudul “Tabuhan 4/4 Luh”, yang dibawakan dalam tur ke berbagai wilayah Nusantara, termasuk Bali. Tokoh Nino menyampaikan dialog berisi data, yang, hingga pada saat pementasan dan tur berlangsung, masih terus berkembang. Nino harus menambul beban hapalan yang bertambah, pekerjaan sebagai composer, serta bobot tanggung jawab historis–tentunya itu bukanlah hal yang mudah.

Pengalaman unik juga dapat ia petik pada 2023, saat ia menjabat sebagai Penata Musik dalam “Monster Ikan” pertunjukan teater eksploratif post-modern kolaborasi 4 negara, yakni Thailand, Jepang, Malaysia, Dan Indonesia. Pertunjukan yang bermula dari FGD dan merupakan bagian dari DITP (Djakarta International Theater Platform) itu membahas tentang pengungsi-pengungsi banjir. Pentas digelar membawa penonton berkeliling ke semua ruang di Taman Ismail Marzuki; dimulai dari depan pemadam kebakaran, keliling diantar odong-odong menuju depan Plaza TIM, lalu turun ke rubanah parkiran, dan berakhir di kolam depan Planetarium. Sebagai Penata Musik yang juga bermain musik, Nino harus mendahului para pemain dan penonton agar bisa menyambut mereka memasuki ruang dengan bunyi atmosferik yang tepat; misalnya, dengan bunyi-bunyian bawah air yang ia gaungkan di rubanah dan membuat penonton ikut merasa tenggelam. Sepanjang pertunjukan, Nino berjibaku dengan engah dan gegas, juga mengkoordinasi beberapa titik audio. Laptop di satu titik, handphone dengan AUX di titik lainnya, dan berbagai perlengkapan yang harus dilepas-pasang sebelum tiap adegan dimulai.

Dalam dunia musik di luar teater, segalanya bermula dari Amalgama, band rock-ethnic-fusion yang didirikan pada 2015 dan kerap membawakan elemen musik tradisional dalam karya-karyanya. Ini adalah band yang pertama kali Nino turut garap seutuhnya, dari dapur kreatif hingga manajemen. Dari band inilah pintu-pintu lainnya terbuka. Pada 2017, Amalgama bermain di Jamming Jungle yang diadakan di sebuah hutan pinus Gunung Pangrango. Di antara berbagai pasang mata yang menonton, salah satunya adalah milik Sigit dari Irama Pantai Selatan, yang kemudian mengajak Nino dan tabuhan perkusinya untuk turut menemani kelana musik mereka. Perjalanan Nino pun berlanjut hingga mempertemukannya dengan berbagai partner dan kolaborator, seperti Gusti dan Konco Kongkow, Rumor-Rumor, White Shoes & the Couples Company, Sal Priadi, Lorjhu, Black Horses, Mondo Gascaro, Pamungkas, dan berbagai musisi tanah air lainnya.

Kubah Kesenian

Nino berpegang pada prinsip bahwa siapa saja–segala usia dan latar belakang–berhak belajar kesenian. Kawan, kakak, dan guru yang sedia membimbing sejatinya dapat ditemukan di mana saja; kesenian pada teorinya membuka pintu kubah dan lengannya lebar-lebar untuk merengkuh siapa pun yang rindu akan suakanya. Pada praktiknya, pintu-pintu masuk mungkin tampak samar bagi mereka yang tidak dilahirkan dengan kacamata berlensa khusus bernama privilege.

Pada titik ini, Nino menunjukkan jenis keberanian yang tidak hanya datang dari tempat yang memupuknya, tapi juga jenis keberanian yang diolah dan dituainya; yakni keberanian mengakui privilege. “Privilege gue, selain nama bokap gue sendiri, adalah rasa aman ketika gue melakukan kegiatan itu.” Di sisi lain, rasa aman bawaan terkadang mengalienasinya dari keresahan yang dimiliki rekan-rekannya ketika berkesenian; ketika yang lain bisa menulis panjang lebar tentang keresahan mereka, Nino tertegun karena hanya mendapati kertas kosong dalam genggamannya. “Bohong kalo gue bilang gue relate.” Nino menekankan lewat sebuah contoh; musisi yang terlahir berada dan disupport akan menghasilkan musik yang berbeda dengan musisi yang terlahir berjuang. Alat, referensi, dan suara yang mereka bawakan tak akan sama karena mereka memulai dari titik yang seutuhnya berbeda. Tapi, bagi Nino, tak perlu berpura-pura menjadi sesuatu yang bukan kita–baik dari sudut pandang privilege atau bukan–karena memang mustahil. Justru, cerita kita adalah kekuatan kita. Maka kita harus mengakuinya sebagai suara kita. “Asal jujur, karya akan tetap sampai di hati.”

Di antara berbagai petualangan yang telah ia lakoni, ia masih punya satu mimpi; membuat albumnya sendiri. Mungkin ini adalah bentuk paling asyik kelana keseniannya yang tanpa pamrih, atau justru upayanya mengisi kertas kosong dengan bunyi tabuhan namanya sendiri. Apa pun dorongannya, ini akan menjadi laungan yang hanya miliknya seorang…

Sekar Dewantari

Sekar Dewantari

SEKAR DEWANTARI (Jakarta, 1996) adalah seniman yang aktif di dunia seni pertunjukan Indonesia. Sebagai anggota Teater Koma, ia telah terlibat dalam berbagai produksi dari tahun 2013 sampai dengan sekarang. Di ranah film, Sekar berpartisipasi dalam berbagai proyek film pendek dan komersial, dengan salah satu pengalaman paling berkesannya adalah perannya sebagai Failed Subject dalam segmen The Subject pada film horor antologi V/H/S/94 (2021) karya Timo Tjahjanto. Beberapa karya penulisannya pernah mendapat penghargaan, yakni Sayembara Penulisan tentang Guru yang diterbitkan oleh Gagasmedia 2009, dan Naskah Terbaik pada Festival Teater SLTA 2014. Ia kini juga berkiprah dalam musik; Sekar aktif dalam band pop fusion Corale Riff sebagai penulis lagu dan vokalis.
Keep in touch with our news & offers

Subscribe to Our Newsletter

What to read next...

Comments

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *