Pameran lintas disiplin kota Depok

Daraskota 2026

Elegi: Folk Sunyi Yang Terdidik Mandiri

Gema dari Kamar dan Layar Digital Prasetyo Bimo tidak pernah merencanakan sebuah upacara peresmian untuk proyek musiknya. Semua bergulir begitu saja pada suatu waktu tahun 2013. Kala itu, ia hanyalah seorang musisi kamar yang memanfaatkan keriuhan Soundcloud untuk mengunggah lagu-lagu karangannya yang direkam secara sederhana menggunakan ponsel dan dipoles sedikit di Adobe Premiere. Tanpa embel-embel …

Gema dari Kamar dan Layar Digital

Prasetyo Bimo tidak pernah merencanakan sebuah upacara peresmian untuk proyek musiknya. Semua bergulir begitu saja pada suatu waktu tahun 2013. Kala itu, ia hanyalah seorang musisi kamar yang memanfaatkan keriuhan Soundcloud untuk mengunggah lagu-lagu karangannya yang direkam secara sederhana menggunakan ponsel dan dipoles sedikit di Adobe Premiere. Tanpa embel-embel nama panggung, Bimo hanya ingin suaranya didengar. Namun, apresiasi yang datang berupa komentar dan repost menumbuhkan ambisi yang lebih besar: ia ingin melangkah keluar dari layar digital.

“Tapi dari situ, karena memang Soundcloud waktu itu digunain banyak orang, gue kenal banyak orang, mulai dari musisi serius, independen atau sekedar orang yang sama-sama suka nyanyi,” ujar Bimo.

“Bahkan bisa dibilang, di masa itu melahirkan pendengar Elegi awal-awal.”

Momen penentuan itu terjadi di Amplop Studio, Cibinong, saat ia merekam lagu “Tidurlah” dengan lebih serius. Ketika operator studio bertanya mengenai nama band untuk keperluan pengarsipan file, Bimo menjawab singkat: “Elegi”. Nama itu terlintas begitu saja, terinspirasi dari tajuk lagu musisi idolanya seperti Ebiet G. Ade, Sore, dan lirik Efek Rumah Kaca.

Meski awalnya dianggap sebagai nama sementara, kata “Elegi” ternyata meresap sempurna ke dalam nuansa sendu dan pasrah yang ia bangun dalam lirik-liriknya. Proyek yang awalnya direncanakan sebagai format band dengan vokalis perempuan ini akhirnya memadat menjadi proyek solo, sebelum akhirnya berkembang menjadi duo dengan kehadiran Khalif Fadhel sebagai gitaris dan vokal.

“Tahun 2011-2013, kebetulan gua mulai kenal format folk yang minimalis, gitar akustik dan vokal, cukup,” ujarnya.

Senja yang Berisik di Margonda

Lahir di Depok pada periode 2013-2014, Elegi tumbuh di tengah ekosistem musik yang sedang lesu, di mana gigs mulai jarang ditemukan. Uniknya, sebagai musisi folk yang membawa kelembutan gitar akustik, Bimo justru sering terlempar ke panggung-panggung yang tidak lazim bagi genrenya. Ia harus berbagi panggung dengan dentuman keras band hardcore-punk dan metal di skena underground Depok demi memperkenalkan karyanya.

“Dari situ, gue ketemu kawan-kawan lama, kawan-kawan baru yang akhirnya ngajak gue manggung di tempat yang lebih jauh,” ujarnya.

Bagi Bimo, Depok bukanlah kota yang memberikan dukungan langsung secara administratif atau fasilitas, melainkan sebuah ruang yang menempa kemandirian Elegi. “Elegi terdidik menjalankan band dengan upaya sendiri,” tuturnya. 

Meski demikian, denyut nadi kota ini tetap mengalir dalam kreativitasnya. Sudut-sudut kota dan momen personal di sana menjelma menjadi lagu-lagu seperti “Bulan di Margonda”, “Mandi Ujan”, dan “Datang Bulan”. Depok mungkin tidak menyediakan karpet merah bagi Elegi, namun ia menjadi latar belakang yang setia bagi setiap keluh kesah yang gagal ia ungkapkan dalam percakapan sehari-hari.

“Gue juga gak pernah punya contoh sih, seperti apa bentuk keterlibatan kota sama suatu Band. Mungkin ada, dan guenya gak pernah tau, atau mungkin gak ada. Jadi gue selalu fokus sama karya Elegi, dan gimana karyanya bisa sampe ke telinga pendengar. Cukup.”

Jejak Estilo dan Sesisir Pisang

Keberanian Elegi mencapai puncaknya saat Bimo memutuskan berhenti bekerja demi mendedikasikan hidupnya pada album penuh “Merayakan Sepi”. Meski sempat tersandung oleh keteledoran masa muda—mencetak 1000 keping CD tanpa strategi penjualan yang matang—ia menolak untuk menyerah pada keadaan.

Dengan semangat mandiri atau do-it-yourself (DIY), ia memanfaatkan media sosial untuk memetakan pendengarnya dan merancang sebuah perjalanan nekat: tur keliling Jawa.

“Gue mulai list kota apa aja, termasuk kota yang punya kolektif musik yang aktif. Gue email dan minta batuan untuk tur yang mau gue rencanain. Ternyata sambutannya baik,” ujarnya.

Bersama Khalif Fadhel, Bimo memacu mobil Karimun Estilo milik rekannya itu, membelah aspal mulai dari Jabodetabek hingga Jawa Timur. Segalanya mereka urus berdua, mulai dari urusan teknis hingga logistik. Format tur berdua juga menjadi keberuntungan sebab gerak mereka jadi lebih mudah dan tidak perlu melewati proses koordinasi yang panjang dan berbelit. Pencapaian itu yang membikin ia bangga.

Bimo saat diwawancara oleh Alfian di sekitaran wilayah GDC. (Dok. Denny Rhestu/Kolase Kultur)

Tur tidak hanya tentang promosi album, tetapi juga tentang pertemuan-pertemuan manusiawi yang tak terlupakan. Di Palembang, ia dipertemukan kembali dengan para pendengar awal dari era Soundcloud-nya. Sementara di Kediri, ia mendapatkan bentuk apresiasi yang paling murni: bukan hanya uang, tetapi juga hasil bumi berupa sesisir pisang sebagai upah manggungnya.

“Tur itu bisa terjadi karena kami memang pingin menjalankan Elegi, tanpa bergantung sama orang lain,” terang Bimo. “Dan mungkin kami masih banyak nekatnya.”

Sejak single “Tidurlah” hingga kini menyongsong album baru bertajuk “Pertarungan Yang Baik”, Elegi terus mendokumentasikan perubahan hidup mereka—dari remaja yang semaunya hingga menjadi pria dewasa yang berkeluarga—dalam setiap petikan dawai yang tetap setia pada rasa sunyi.

“Album ini banyak campur tangan dari Khalif Fadhel, banyak diskusinya, dan setiap ngambil keputusan selalu bareng-bareng,” kata Bimo. “Ini album Elegi yang paling menyenangkan dalam proses pengerjaannya.”

Alfian Putra Abdi

Alfian Putra Abdi

Alfian Putra Abdi mengawali dunia penulisan sejak SMA dengan membuat zine musik berbasis komunitas seperti: Bungkamsuara, Anotherspace, dan Lemarikota Webzine. Sejak 2016, ia bekerja sebagai jurnalis investigatif. Sekarang ia aktif menulis untuk Project Multatuli. Salah satu laporan investigasinya yang berjudul "Gurita Bisnis Raffi Ahmad: Ditopang Keluarga Presiden, Bos Nikel, hingga Petinggi Partai Golkar" meraih honorable mention di SOPA Awards 2025 di Hong Kong.
Keep in touch with our news & offers

Subscribe to Our Newsletter

What to read next...

Comments

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *