PERINGATAN PEMICU: Artikel ini memuat topik sensitif terkait kekerasan, krisis psikologis berat, dan tindakan berisiko terhadap diri sendiri. Mungkin tanpa pernah diduga; di sebuah sudut Pasar Kemiri–lebih dari dua dekade lalu–seorang anak perempuan bermain di pasar, di lapak samping tempat orang tuanya berdagang ayam. Anak itu berjalan ke sana ke mari, melompat, berseru seperti bocah …
Agnes Sarila: Kampung Halaman Tubuh

PERINGATAN PEMICU: Artikel ini memuat topik sensitif terkait kekerasan, krisis psikologis berat, dan tindakan berisiko terhadap diri sendiri.
Mungkin tanpa pernah diduga; di sebuah sudut Pasar Kemiri–lebih dari dua dekade lalu–seorang anak perempuan bermain di pasar, di lapak samping tempat orang tuanya berdagang ayam. Anak itu berjalan ke sana ke mari, melompat, berseru seperti bocah pada umumnya–dan rupanya, menyongsong masa depan sebagai seorang penari tradisional asal Depok yang kemudian mendirikan sanggar tarinya sendiri.
Rumah dan Sekolah; Sejarah dalam Darah
Ialah Agnes Sarila Wiridhani, yang akrab dipanggil Agnes. Perempuan kelahiran 1998 ini tumbuh besar di Beji, Depok. Orangtuanya asli Solo. Sejak kecil, didikan unggah-ungguh Jawa serta nilai religi ditanamkan dengan kuat pada dirinya, bagai dua akar besar yang menjaganya agar tetap pada jalur lurus. Nilai-nilai itu memang menjadikannya seorang anak yang pandai menahan diri. Tari pertama kali diperkenalkan padanya oleh sang Ibu yang mendaftarkannya sebagai murid salah satu sanggar tari di Depok, sekadar mengisi waktu luang selagi orangtuanya berjualan. Saat itu, usianya baru 5 tahun. Itulah awal kecintaannya pada Tari Jawa. Kemudian ia melanjutkan perjalanan dengan berguru pada seorang lulusan Institut Seni Indonesia Surakarta di kawasan Bulungan, tempatnya mendalami pakem Tari Jawa Klasik Surakarta. Tanpa dinyana, makna kesenian satu ini melampaui sekadar pengisi waktu luang–tari begitu mudah melekat pada tubuhnya, sedekat darah di dalam urat. Ia menjadi rumah dan sekolah; pondasi penting dalam pembentukan teknik, pemikiran kritis, kepekaan rasa, dan kedisiplinan dalam dirinya.

Namun, lama kelamaan, sang Ibu merasa bahwa ongkos transportasi dan kebutuhan menari terlalu berat. Maka, untuk menjadikan jarak antara Depok – Bulungan lebih ringan, Ibunya kemudian memanggil salah satu guru tari dari Bulungan tersebut ke rumah. Agnes pun sempat berjualan untuk menutup ongkos kebutuhan tari.
Pada masa remaja, Agnes terus menempa berbagai ragam tari tradisional Nusantara melalui berbagai sanggar dan kegiatan di Anjungan Taman Mini Indonesia Indah. Ia juga memenangkan berbagai perlombaan tari. Namun, saat menduduki bangku SMA, sang Ibu tidak lagi merestui kegiatan ini; stigma sosial negatif disematkan pada dirinya sebagai ‘seorang perempuan yang kerap pulang malam’ karena kesibukan di dunia tari (dan teater, yang ia cicipi di bangku SMA). Bergiat di kesenian seolah dianggap resep pasti penghasil pertanyaan “mau jadi apa?”. Terlebih lagi, lanskap kota Depok tampak masih memandang kesenian sebagai dekorasi dan latar semata alih-alih produk kebudayaan penyimpan ingatan kolektif, agen transformatif, serta ekspresi identitas. Pilihan Agnes untuk berkecimpung dalam kesenian pun menjadikannya liyan.
Bagaimana pun juga, tari adalah resistensi bagi Agnes; pergerakan jiwa yang tetap memiliki tempat di tengah ikatan erat dua akar norma. Pemberontakan itu tidak dibawakan dengan meledak-ledak, justru dengan hati-hati. Tari tetap menjadi hidupnya meski harus dijalani secara klandestin.
Baru beberapa tahun setelahnya, sebuah fakta pahit-manis terungkap pada Agnes oleh sebuah foto lama dalam lemari tua Ibunya di kampung halaman; yakni foto gadis Ibunya–sebagai penari Kabupaten. Fakta ini terasa seperti semburat cahaya di langit yang juga membawakannya topan; itulah mengapa tari begitu intim di tubuh dan batinnya, ia adalah sejarah yang mengalir kental dalam darah. Sebuah jalur yang mesti patah, kala Ibunya merasa bahwa menari di Solo–dengan upah tak seberapa–terlalu berat jika harus dipikul lulusan SMP sepertinya.
Kelana ke Cakrawala, Terperosok di Baliknya
Sebagai satu-satunya anggota keluarga inti yang mengenyam pendidikan hingga jenjang sarjana, horison terbentang lepas di hadapan Agnes, baik dari segi akademik maupun artistik. Saat mengenyam pendidikan Sastra Indonesia, di Universitas Indonesia, ia mengikuti UKM Tari dan mulai mempelajari tari kontemporer, dasar balet, koreografi, serta musik tradisional dengan fokus pada musik Minangkabau dan Betawi. Selaras dengan ritme dua musik tersebut, dunia Agnes berubah cepat. Inilah masa transisi Agnes, dari seorang remaja penari Jawa yang banyak menahan diri, menjadi seorang mahasiswi yang wajib gesit mengejar ketukan. Tak hanya apa yang nampak di atas panggung, Agnes pun wajib mempelajari ilmu di balik layar; baik segi artistik (rias, kostum) maupun manajemen. Di titik inilah Agnes menyadari bahwa tari tradisi tak hanya butuh dilestarikan melalui pakem, teknik gerak, dan karsa yang tumpah di panggung, namun juga harus disokong melalui ekosistem yang utuh.
Ekspansi cakrawala Agnes semakin ranum lewat berbagai prestasi yang ia raih dalam rentang usia 18 hingga 22 tahun; pada 2018, ia menjadi Juara 1 Pekan Seni Mahasiswa Tingkat Daerah, mewakili DKI Jakarta ke tingkat Nasional. Kemudian ia menyabet Juara Harapan II di Pekan Seni Mahasiswa Tingkat Nasional, bersaing dengan perwakilan dari 34 provinsi di Indonesia. Selain itu, perannya sebagai duta budaya Indonesia di kancah internasional pun diperkuat melalui pengalamannya mewakili Indonesia dalam Program Misi Budaya sebagai penari dan pemusik tradisional, melakukan pertukaran seni ke 5 negara, yakni Rumania, Serbia, Bosnia Herzegovina, Hungaria, dan Slowakia.

Namun rupanya petaka bersembunyi di balik kaki langit. Pada periode tersebut, Agnes terjerat dalam hubungan beracun dengan sesama pelaku seni, seorang musisi Betawi yang terpaut usia 10 tahun dengannya. Hubungan selama kurang lebih satu tahun itu meninggalkan trauma besar yang butuh penyembuhan lebih lama daripada durasi hubungan itu sendiri. Di balik punggung–sekaligus di bawah hidung–rekan-rekan sejawat, Agnes menerima kekerasan psikologis, verbal, finansial, fisik, dan seksual. Batas antara ketegangan profesional dan personal dikaburkan, bersama dengan garis antara yang nyata dan yang dusta. Pelaku menariknya dalam berbagai proyek profesional tanpa pernah memberi bayaran. Uang Ibunya dipinjam pelaku tanpa pernah dilunasi. Pelaku membuat keributan di lingkup tempat tinggal Agnes, menjebak Agnes agar terkesan menghilangkan barang pinjaman di lingkup profesional, dan alhasil, membuatnya harus bertanggung jawab. Agnes menerima serangan demi serangan fisik (di tempat yang tak terlihat, trik andalan para pelaku KDRT), dan menerima lemparan kopi panas ke wajah.
Sebagaimana yang telah dikhatami oleh tubuhnya, ia menahan diri. Agnes merasa sulit melaporkan perbuatan itu pada siapa pun, seperti banyak korban kekerasan dalam hubungan lainnya. Pelaku membuatnya merasa asing dengan instingnya, dengan tubuhnya, dan membuatnya merasa layak berada di tempat jahat. Agnes kehilangan pegangan, dan dunia, di matanya, mulai tampak berbayang. “Seperti kacamata berjarak yang berdebu di pinggirnya”. Dua versi dunia yang memaksa koeksis, mustahil dipastikan mana yang benar.
Gelap
Agnes mengalami depresi berat dan kecemasan akut yang kemudian termanifestasi menjadi serangan panik. Keluar rumah membuat pikirannya kisruh. Matanya selalu tertuju pada satu arah; plat mobil. Takut ada yang mengejar atau mencarinya. Di tengah kondisi psikologis yang memburuk, ia sempat mengalami percobaan bunuh diri.
Sang Ibu berperan penting dalam membantu Agnes keluar dari situasi itu. Agnes dilarang bertemu lagi dengan pelaku, dikarantina selama beberapa minggu, dan jika terpaksa harus keluar rumah, wajib disertai dengan pelacakan pada telepon seluler. Lalu pandemi datang dan membuatnya merasa lega. Ia mulai mengajar tari dalam kelas daring, namun secara spesifik, menghindari tarian-tarian Betawi. Agnes juga sempat menemui psikiater secara rutin dan direkomendasikan untuk mengonsumsi antidepresan.
Pada satu titik, Agnes sempat melapor kepada wadah yang menampungnya dan pelaku dengan harapan bisa menjauhkan pelaku dari potensi korban baru. Namun tidak ada tindakan substantif yang diambil untuk mengeluarkan pelaku dari lingkup kesenian tersebut. Sungguh sangat disayangkan bahwa ruang aman dalam kesenian belum bisa terwujud dengan mudah ketika harus berhadapan dengan alasan senioritas, relasi kuasa, dan warisan kebudayaan.
Dunia tari kini berwajah dua di mata Agnes; menjelma luka sekaligus lencana. Ia sempat berniat untuk berhenti menjadi penari, namun di suatu sudut tersembunyi, masih nampak kilau api.
Kembali ke Kampung Halaman Tubuh
Penyembuhan muncul dari sudut yang tidak disangka-sangka, yakni justru sudut yang paling dekat. Setelah pandemi mulai mereda, Agnes mulai menguntai langkah pulang yang lebih pasti pada tari. Entah bagaimana, ia menemukan dan mengikuti sebuah kelas tari Bali yang sebetulnya diperuntukkan bagi pasien kanker. Kesungguhan dan kemerdekaan para peserta dalam bergerak menyentuh hatinya, dan mengingatkannya pada keriaan menari, terlepas dari prestasi dan kesempurnaan. Pada kelas tersebut, ia bertanya apakah sang pengampu membuka kelas tari Jawa, dan ternyata, guru tersebut sesungguhnya merupakan pengajar tari Jawa. Takdir; Agnes pun kembali pada relung yang dikenal betul oleh raga dan batinnya; Tari Jawa.
Setelah badai besar, tari Jawa merupa sepasang tangan Sang Ibu yang menerimanya pulang. Tempo tari Jawa yang pelan dan postur yang mewajibkan penarinya untuk menarik ‘inti diri’ ke dalam, bukan mendorongnya keluar, memaksa Agnes untuk menata hati. Dalam setiap ketukan, ia bernapas, kembali pada poros, lalu bermetamorfosis dengan sabar; dari seorang penari Jawa yang menahan diri, menjadi penari Jawa yang mengolah diri. Tari Jawa menjadi meditasi kinestetik, metode terapi yang mungkin tidak saintifik, namun artistik. “Rasanya kok, seperti kembali ke kampung halaman, ya.” ujarnya. Ya. Kampung halaman tubuh.
Pada 2022, Agnes mendirikan SRIKA Production Dance, sebuah komunitas tari yang berfokus pada pelestarian, pengembangan, dan regenerasi seni tari tradisional Indonesia. Ia mengusung semangat menjembatani tradisi konteks zaman, dan self-love. Kini, SRIKA bersanggar di Jakarta Pusat, namun ia masih tetap membuka kelas tari di rumahnya di Depok. Agnes pun tak berhenti belajar. Ia juga menjadi bagian dari komunitas NIRANTARA–tempat berkumpulnya banyak seniman Istana zaman Soeharto–yang diasuh Kanjeng Pangeran (K. P.) Sulistyo Tirtokusumo; seorang Empu Tari Jawa Klasik gaya Surakarta sekaligus Direktur Jenderal Kebudayaan, Kementrian Kebudayaan Republik Indonesia.

Di bawah pimpinan Agnes, Komunitas SRIKA juga aktif mengadakan workshop, pementasan, dan kegiatan tari lainnya. Agnes menciptakan SRIKA sebagai ruang inklusif bagi siapa saja yang mau belajar seni tari, terlepas dari usia, gender, dan pengalaman dalam bidang tari. Komunitas ini tidak memandang tari sebatas keterampilan bergerak saja, melainkan juga sebagai media katarsis dan proses pembelajaran mencintai diri sendiri melalui kesadaran anatomi tubuh. Ia juga berniat menghapuskan stigma bahwa menari hanya diperuntukkan bagi mereka yang memiliki bentuk tubuh ‘ideal’ menurut standar arus utama ciptaan masyarakat modern. Baginya dan SRIKA, semua orang berhak menari dan menemukan pembelajaran, kebahagiaan, serta kedamaian di dalamnya. Ini juga resistensi, yang disajikan dalam komposisi koreografi.
Menurut kata-katanya, “menari menjadi media penyembuhan diri…”
Jika Anda atau seseorang yang Anda kenal mengalami atau menyaksikan kekerasan, hubungi layanan pengaduan dan pendampingan seperti SAPA129 (hubungi 129 atau WhatsApp 08111-129-129) untuk mendapatkan dukungan dan arahan lebih lanjut. Anda juga dapat melapor atau berkonsultasi melalui Komnas Perempuan. Bantuan tersedia, dan Anda tidak harus menghadapi situasi ini sendirian.






