Pameran lintas disiplin kota Depok

Daraskota 2026

Fanny Yahya: Mix Media dan Perjalanan yang Menyertainya

Fanny Yahya adalah seniman visual yang lahir dan besar di Jakarta. Perjalanannya dalam seni dimulai sejak masa sekolah, ketika melukis menjadi ruang ekspresi yang paling dekat dengannya. Latar belakang pendidikan Desain Komunikasi Visual memperkuat eksplorasinya, hingga ia menemukan medium cat air sebagai bahasa utama dalam berkarya.  Fanny mendalami teknik cetak alternatif Cyanotype dan menggabungkannya dengan …

Fanny Yahya adalah seniman visual yang lahir dan besar di Jakarta. Perjalanannya dalam seni dimulai sejak masa sekolah, ketika melukis menjadi ruang ekspresi yang paling dekat dengannya. Latar belakang pendidikan Desain Komunikasi Visual memperkuat eksplorasinya, hingga ia menemukan medium cat air sebagai bahasa utama dalam berkarya. 

Fanny mendalami teknik cetak alternatif Cyanotype dan menggabungkannya dengan cat air untuk menciptakan karya yang menyatukan intuisi, eksperimen, dan narasi visual yang puitis. Melalui pendekatan ini, ia berusaha merekam jejak waktu, cahaya, dan alam ke dalam karya yang lebih kontemplatif dan personal. Fanny juga aktif menjadi inisiator berbagai lokakarya cyanotype dan cat air melalui wadah karyanya yang bernama Here Comes The Sun . Melalui program ini, ia tidak hanya membagikan teknik artistik, tetapi juga menghadirkan ruang perjumpaan yang hangat untuk bereksperimen, berproses, dan merayakan keindahan alam serta cahaya matahari yang menjadi sumber inspirasinya. 

Dalam proses kreatifnya berakar pada momen kontemplatif, di mana ia membuka ruang hening untuk meresapi energi alam yang hadir di sekitarnya. Baginya, setiap karya merupakan rekaman halus dari jejak alam yang dikoneksikan ke dalam diri, lalu diwujudkan dalam kekaryaannya. Dalam proses ini, ritual sederhana seperti menikmati teh herbal atau teh bunga menjadi bagian penting yang menenangkan pikiran, memperdalam kepekaan, sekaligus mengalirkan intuisi agar ide dapat muncul secara organik dan jernih.

Di tengah pertumbuhan pesat Kota Depok sebagai wilayah penyangga Jakarta, keberadaan ekosistem seni masih berada dalam posisi yang belum sepenuhnya mapan. Kota ini dihuni banyak pelaku seni, namun belum memiliki infrastruktur distribusi dan presentasi yang memadai. Situasi ini menjadikan Depok lebih berfungsi sebagai ruang produksi dibandingkan ruang apresiasi. Seniman berkarya di Depok, tetapi mempresentasikan karyanya di kota lain.

Fanny Yahya saat menjelaskan alat yang digunakan dalam pengkaryaan (Dok. Denny Restu/Kolase Kultur)

Bagi Fanny Yahya, kondisi ini mencerminkan ironi yang telah berlangsung lama. Ia melihat Depok sebagai kota yang sebenarnya kaya talenta, tetapi belum mampu menjadi panggung bagi senimannya sendiri. Banyak seniman yang tinggal dan bekerja di Depok, namun aktivitas pameran, diskusi, dan distribusi karya masih terpusat di Jakarta. Hal ini bukan semata soal pilihan personal, melainkan konsekuensi dari belum terbentuknya ekosistem yang mendukung secara struktural.

Menurut Fanny, Depok memiliki karakter sebagai “kota dapur”—tempat karya dilahirkan, tetapi bukan tempat karya dirayakan. Ia menilai bahwa sumber daya manusia kreatif di Depok sangat kuat, namun tidak diimbangi dengan keberadaan galeri, ruang pamer, dan ruang diskusi yang berkelanjutan. Ketiadaan infrastruktur tersebut membuat banyak karya akhirnya keluar dari kota ini untuk menemukan ruang hidupnya di tempat lain.

Kondisi ini turut membentuk cara Fanny memandang praktik berkesenian. Alih-alih menunggu kehadiran ruang formal, ia melihat pentingnya mengaktivasi ruang-ruang alternatif. Baginya, keterbatasan fasilitas bukan semata hambatan, tetapi juga peluang untuk menciptakan bentuk distribusi yang lebih fleksibel. Ruang publik, ruang komersial, hingga ruang domestik dapat diubah menjadi ruang presentasi karya. Pendekatan ini mencerminkan pergeseran dari ketergantungan pada institusi formal menuju inisiatif berbasis komunitas dan kolektivitas.

Fanny juga menekankan pentingnya jejaring dalam menjaga keberlangsungan praktik seni. Dalam konteks kota yang minim infrastruktur, hubungan antar-seniman dan komunitas menjadi elemen penting dalam membangun ekosistem alternatif. Kolektivitas memungkinkan pertukaran gagasan, memperluas akses, serta menciptakan ruang diskusi yang sebelumnya tidak tersedia secara formal.

Di tengah keterbatasan tersebut, konsistensi berkarya menjadi persoalan yang bersifat personal sekaligus struktural. Bagi Fanny, produktivitas tidak sepenuhnya bergantung pada keberadaan panggung atau pengakuan eksternal. Ia melihat praktik berkesenian sebagai bagian dari dorongan internal yang harus dijaga secara mandiri. Dalam situasi minim apresiasi lokal, ruang studio dan proses kreatif itu sendiri menjadi ruang utama untuk mempertahankan kontinuitas praktik.

Lebih jauh, Fanny melihat bahwa tantangan yang dihadapi seniman Depok bukan hanya soal ruang fisik, tetapi juga soal cara pandang. Ia menilai bahwa ekosistem seni membutuhkan dukungan yang lebih luas, termasuk dari pemerintah dan pemangku kepentingan kota. Dukungan tersebut dapat berupa penyediaan ruang, kemudahan akses, serta pengakuan terhadap seni sebagai bagian dari identitas kultural kota.

Meski demikian, Fanny tidak sepenuhnya memandang kekosongan ini secara pesimistis. Ia melihat adanya kemungkinan untuk membangun ekosistem yang lebih organik dan mandiri. Ketiadaan struktur formal justru membuka ruang eksperimentasi dan memungkinkan seniman untuk mendefinisikan cara kerja mereka sendiri. Dalam konteks ini, seniman tidak hanya berperan sebagai produsen karya, tetapi juga sebagai penggerak ekosistem.

Pengalaman Fanny Yahya mencerminkan posisi seniman yang bekerja di tengah kota dengan potensi besar, tetapi dukungan infrastruktur yang terbatas. Depok, dalam hal ini, berada pada titik transisi—memiliki sumber daya kreatif yang kuat, namun masih dalam proses membangun ekosistem yang mampu menopang praktik seni secara berkelanjutan.

Ke depan, perkembangan ekosistem seni di Depok akan sangat bergantung pada pertemuan antara inisiatif seniman dan dukungan struktural kota. Praktik yang dijalankan oleh seniman seperti Fanny Yahya menunjukkan bahwa di tengah keterbatasan, upaya membangun ruang, jejaring, dan wacana tetap berlangsung. Pertanyaannya bukan lagi apakah ekosistem itu mungkin terbentuk, tetapi kapan kota ini mampu menyediakan ruang yang setara bagi senimannya untuk hidup dan berkembang di tempat mereka sendiri.

Gilang Ilalang

Gilang Ilalang

Gilang G Ilalang (Depok, 1999) Bekerja sebagai desainer grafis purna waktu. Aktif mengelola Perkara Records dan Distrik170. Kegiatannya juga diisi sebagai musisi di kota Depok, diantaranya Jurang dan Flood.
Keep in touch with our news & offers

Subscribe to Our Newsletter

What to read next...

Comments

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *