Pameran lintas disiplin kota Depok

Daraskota 2026

Remori: “Keterbatasan Adalah Bahan Bakar Terbaik”

Di sebuah sudut di Kota Depok, di mana bising jalanan berkelindan dengan aroma timah panas dari ujung solder, Rendy Mochamad Ridwan merajut dunianya sendiri. Bagi sebagian orang, ia mungkin hanya pemuda biasa, namun di jagat musik elektronik arus bawah, ia adalah Remori—sebuah nama yang ia pungut dari memori save data PlayStation dan Game Boy masa …

Di sebuah sudut di Kota Depok, di mana bising jalanan berkelindan dengan aroma timah panas dari ujung solder, Rendy Mochamad Ridwan merajut dunianya sendiri. Bagi sebagian orang, ia mungkin hanya pemuda biasa, namun di jagat musik elektronik arus bawah, ia adalah Remori—sebuah nama yang ia pungut dari memori save data PlayStation dan Game Boy masa kecilnya, yang kemudian terus melekat hingga ke tembok-tembok jalanan sebagai tag grafiti.

Remori bukanlah sebuah persona panggung yang rumit atau karakter rekaan yang aneh-aneh. “Ini tetap gue, cuma beda konteks aja,” ungkapnya, menegaskan bahwa tidak ada kepribadian ganda di balik mesin-mesin sintetisnya.

Musiknya lahir dari apa yang ia sebut sebagai “musik kamar”, sebuah pelarian kreatif yang bermula saat pandemi COVID-19 memaksa dunia berhenti berputar. Di tengah isolasi dan rasa jenuh yang mengepung, Rendy mulai mengotak-atik bunyi, menemukan kebebasan yang tidak ia dapatkan saat mencoba bermain dalam format band yang penuh kompromi.

Remori menceritakan perjalanannya yang dimulai saat masa pandemi. (Dok. Dheny/KolaseKultur)

Kekuatan utama Remori justru tumbuh dari keterbatasan. Alih-alih meratapi mahalnya pajak impor alat musik pabrikan atau sulitnya akses literasi elektronik, Rendy memilih untuk menciptakan alat-alatnya sendiri. Ia adalah seorang “penyihir” sirkuit yang merakit synth-synth sederhana untuk mengejar suara yang tidak disediakan oleh raksasa industri seperti Roland atau Korg. Baginya, keterbatasan referensi dan alat justru menjadi kompas yang membentuk identitas musiknya pelan-pelan.

Jejak langkahnya terekam dalam album-album seperti Determinan, yang lahir secara organik dari eksperimen menggunakan Game Boy dan perangkat lunak LSDJ. Ketika respon komunitas di Bandcamp membanjir, Rendy yang tidak memiliki modal besar untuk merilis fisik secara konvensional, memutar otak. Ia merilis albumnya dalam bentuk diska lepas (USB flashdisk) dan bertajuk “Elektro Ugal-Ugalan”. Selanjutnya ia juga merancang turnya sendiri. Sebuah DIY tur yang bermodalkan nekat dan gairah.

Bayangkan sebuah petualangan nekat: Rendy bersama seorang kawan akrabnya, membelah jalur Tasik, Garut, Bandung hingga Jabodetabek, menunggangi sepeda motor Honda Beat. Selama satu bulan penuh pada akhir 2024, mereka menyambangi sepuluh titik kota, membawa musik elektronik keluar dari menara gading menuju aspal jalanan.

Keuntungan dari penjualan album di Bandcamp tidak ia simpan untuk kemewahan; ia mengonversinya menjadi sistem musik baru, Nanoloop 2 dari Jerman, demi mengejar tekstur suara yang lebih halus dan membangun modular synth hasil rakitan sendiri. Bagi Rendy, setiap album adalah sebuah “buku” yang merangkum komposisi suasana hatinya. Setelah “bertapa” dengan sistem musik barunya, ia melahirkan album VSWR yang kemudian ia bawa berkeliling dalam tur Mei 2025, menjelajahi Bali hingga Jakarta.

Namun, di balik semua keriuhan tur dan rakitan kabel-kabel rumit, Rendy tetap berpijak pada bumi. Ia rutin mengadakan lokakarya dasar soal elektronika bersama Glakglikgluk, bukan demi misi edukasi yang muluk atau mencari pengikut, melainkan demi sebuah “keseruan eksistensialis”.

Remori dan Alfian. (Dok. Dheny/KolaseKultur)

Ia ingin orang-orang tidak hanya menonton, tetapi juga merasakan panasnya solder dan kepuasan menciptakan sesuatu dari nol. Kini, di tengah perjalanan kariernya, ia memilih untuk sejenak menepi dan berintrospeksi, memastikan setiap langkah yang ia ambil di masa depan tidak menjadi langkah yang keliru. Di kamar elektroniknya, Remori terus beresonansi, membuktikan bahwa keterbatasan adalah bahan bakar terbaik untuk sebuah ledakan kreativitas.

“Masih banyak yang pengin gue capai, tapi gue nggak mau salah langkah. Jadi untuk sekarang, introspeksi adalah pilihan paling masuk akal,” tandasnya.

Dengar sepenuhnya: Album Remori

Alfian Putra Abdi

Alfian Putra Abdi

Alfian Putra Abdi mengawali dunia penulisan sejak SMA dengan membuat zine musik berbasis komunitas seperti: Bungkamsuara, Anotherspace, dan Lemarikota Webzine. Sejak 2016, ia bekerja sebagai jurnalis investigatif. Sekarang ia aktif menulis untuk Project Multatuli. Salah satu laporan investigasinya yang berjudul "Gurita Bisnis Raffi Ahmad: Ditopang Keluarga Presiden, Bos Nikel, hingga Petinggi Partai Golkar" meraih honorable mention di SOPA Awards 2025 di Hong Kong.
Keep in touch with our news & offers

Subscribe to Our Newsletter

What to read next...

Comments

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *