Pameran lintas disiplin kota Depok

Daraskota 2026

GIGS Depan Pemkot: Semoga Hardcore Tidak Menjadi Kendor

Depok akhir - akhir ini makin gencar menyelenggarakan acara gigs atau pun festival. Dengan satu genre tertentu, mau pun lintas genre. Melihat kota ini aktif seperti ini lagi rasanya seperti terbangun dari hibernasi panjang. Cukup senang rasanya melihat scene di kota Depok aktif ngebut dengan schedule yang rapat, 2025 hampir setiap bulan dalam satu 6 …

Depok akhir – akhir ini makin gencar menyelenggarakan acara gigs atau pun festival. Dengan satu genre tertentu, mau pun lintas genre. Melihat kota ini aktif seperti ini lagi rasanya seperti terbangun dari hibernasi panjang. Cukup senang rasanya melihat scene di kota Depok aktif ngebut dengan schedule yang rapat, 2025 hampir setiap bulan dalam satu 6 bulan belakang selalu ada perayaan musik.

Saya paham betul permasalahan kolektif di kota Depok adalah ruang. Harga sewa mahal sekali, sementara daya beli tiket atau pengunjung tidak stabil. Hal ini lah yang menjadikan komunitas – komunitas di kota Depok harus menjadi “pecun” ke korporasi besar untuk meminta bantuan pendanaan. Dan Saya tahu betul, plat merah banten mendominasi di kota ini.

Di Depok hadir sebuah tempat baru. Persis di depan kantor walikota Depok. Bernama Depok Open Space. Tempat ini sering dimanfaatkan oleh beberapa komunitas, salah satunya adalah Satnight Sounds untuk mengisi kekosongan area tersebut. Venue tersebut selain agak janggal untuk saya (dan mungkin teman teman yang sepemikiran seperti saya), yaitu takut di tunggangi atau dimanfaatkan atau mungkin malah lebih fatal lagi yaitu takut diambil alih fungsi oleh pejabat setempat (whatever the f*ck that means).

Pada tanggal 27 Desember 2025, telah diselenggarakan acara gigs charity sebagai bentuk kepedulian untuk Aceh Tamiang— daerah yang paling parah terdampak banjir Sumatera. Jajaran nama nama brand besar, komunitas, kolektif scene musik dan juga media berjejer di sana. Tapi ada satu yang perlu saya garis bawahi di antara jajaran nama nama tersebut, yaitu D-Area.

D-Area dan penonton di Depok Open Space (Dok. Istimewa)

Jujur saya adalah fans berat dari kolektif scene Hardcore Depok tersebut. Saya selalu menunggu ketika mereka membuat acara. Saya banyak mencontek juga apa yang mereka perbuat di acara acara sebelumnya. Namun kemarin, nama mereka sejajar dengan nama brand dan kolektif musik yang bermain di area lingkungan pejabat membuat saya kaget sedikit. Mungkin banyak kawan yang segan untuk menyikapi dan memberi pernyataannya karena banyak hal. Pikir saya mungkin ini adalah aksi solidaritas antar kolektif musik. Entahlah.

Namun rasanya sedikit membuat saya cekikikan, mengingat mereka adalah komunitas yang sedang menuju besar dengan cara mandiri, tidak pernah bergantung pada korporasi besar dan juga kekuasaan. Bertanggar di dalam poster tersebut. Mungkin kawan-kawan D-Area lupa akan arti dari integritas.

Saya sejujurnya tidak terlalu mempermasalahkan hal tersebut, karena mungkin itu bagian dari solidaritas untuk acara kemarin. Tapi semisal jikalau itu solidaritas, mereka seharusnya punya porsi atau berani untuk membuat sendiri, saya yakin betul masa mereka akan lebih ramai dan lebih solid ketimbang acara “Gigs Aid from Depok to Tamiang” kemarin.

Hardcore di Depok menurut saya tidak akan ada matinya, selalu ada regenerasi band-band baru dari tahun ketahun. Band band baru tersebut itu timbul dari acara acara kecil-kecilan yang intens, seperti yang kawan kawan D-Area buat. Bagaimana mereka tidak senang? Mereka bisa bermain di rumah nya sendiri, sambil belajar tentang kolektif maupun arti komunitas yang menjaga arti integritas. Saya selalu berharap, ini hanyalah blunder bagi mereka, ya solidaritas.

Terakhir. Menurut saya tentang persoalan ini adalah, ketika praktik dukungan kebudayaan mulai disertai dengan (misal) kepentingan pejabat politik tertentu, seolah-olah pertumbuhan dan keberlangsungan komunitas selama ini merupakan hasil dari keterlibatan mereka. Praktik semacam ini berpotensi mereduksi otonomi ruang kebudayaan serta membuka jalan bagi kooptasi politik yang bertentangan dengan prinsip kemandirian dan emansipasi komunitas.

Semoga tulisan ini tidak dianggap ofensif bagi teman teman D-Area. Tulisan ini jujur dari fans kalian, yang tak ingin kalian keluar dari garis merah integritas hardcore.

Gilang Ilalang

Gilang Ilalang

Gilang G Ilalang (Depok, 1999) Bekerja sebagai desainer grafis purna waktu. Aktif mengelola Perkara Records dan Distrik170. Kegiatannya juga diisi sebagai musisi di kota Depok, diantaranya Jurang dan Flood.
Keep in touch with our news & offers

Subscribe to Our Newsletter

What to read next...

Comments

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *