Make your inbox happier!

Subscribe to Our Newsletter

Budi Ros Kembali ke Panggung sebagai Semar yang Diculik “KPK” dalam Pentas Mencari Semar Teater Koma

Teater Koma kembali hadir dengan gebrakan baru di usia ke-48 tahun lewat lakon bertajuk Mencari Semar, hasil kolaborasi bersama Bakti Budaya Djarum Foundation. Pementasan ini akan berlangsung pada 13–17 Agustus 2025 di Ciputra Artpreneur, menghadirkan kisah futuristik yang berpijak pada mitologi Jawa dan mengeksplorasi pergeseran nilai-nilai kebijaksanaan di masa depan. Namun yang paling mencuri perhatian …

Teater Koma kembali hadir dengan gebrakan baru di usia ke-48 tahun lewat lakon bertajuk Mencari Semar, hasil kolaborasi bersama Bakti Budaya Djarum Foundation. Pementasan ini akan berlangsung pada 13–17 Agustus 2025 di Ciputra Artpreneur, menghadirkan kisah futuristik yang berpijak pada mitologi Jawa dan mengeksplorasi pergeseran nilai-nilai kebijaksanaan di masa depan. Namun yang paling mencuri perhatian adalah kehadiran Budi Ros, yang kembali memerankan tokoh legendaris Semar, kali ini sebagai sosok pensiunan yang justru diculik oleh Komisi Pengawasan Kedewaan (KPK).

Dalam lakon ini, Semar digambarkan telah pensiun dari tugas-tugas spiritual dan sosialnya. Ia kini hidup tenang, mengobrol santai dengan Bagong sembari membahas hal-hal remeh, termasuk peraturan terbaru dari UU Dewa (UUD) yang mengharuskan setiap dewa di Astinapura mengantongi cap izin 50 tahun untuk beraktivitas di ranah kedewaan. Namun ketenangan itu segera berubah ketika lima Agen dari Kekaisaran Nimacha (sebuah peradaban futuristik yang tengah menghadapi kehancuran) menemukan bahwa Semar menyimpan Kalimasada, jimat sakti yang dipercaya bisa menulis ulang Perintah Utama. Dalam upaya mengambil alih kekuatan tersebut, Semar diculik dan dibawa ke Ruang Putih, sebuah ruang ilusi yang dirancang untuk menarik jimat itu dari tubuhnya.

Para Pemain Teater Koma (Dok. Image Dynamics)

Kembalinya Budi Ros ke panggung Teater Koma menjadi sorotan tersendiri. Setelah sebelumnya aktif di layar lebar lewat film seperti Love Therapy, Penjagal Iblis: Dosa Turunan, dan Pabrik Gula, aktor kawakan yang telah bermukin di Depok selama 30 tahun ini menunjukkan bahwa dirinya belum selesai dengan dunia teater. Lewat interpretasi Semar sebagai sosok tua, jenaka, namun masih menyimpan kebijaksanaan tajam, Budi Ros menghadirkan nostalgia sekaligus pembaruan karakter yang ikonik.

Lakon ini ditulis dan disutradarai oleh Rangga Riantiarno, putra sekaligus penerus maestro dari mendiang Nano Riantiarno.

“Semar bukan sekadar tokoh pewayangan, ia adalah simbol suara rakyat dan penjaga keseimbangan. Dan hari ini, justru nilai-nilai itulah yang makin dibutuhkan,” ucap Rangga.

Pementasan ke-235 dari Teater Koma ini menjadi eksplorasi lintas disiplin dengan visual futuristik, set panggung interaktif, hingga proyeksi multimedia yang menggambarkan perjalanan waktu yang tidak linear.

Skenografer Deden Bulqini menambahkan bahwa skenografi dalam Mencari Semar bukan hanya latar, melainkan menjadi bagian dari dramaturgi yang membawa penonton ikut terseret dalam dunia Semar yang semakin absurd. Elemen khas Teater Koma seperti kostum penuh warna, tarian teatrikal, nyanyian jenaka, dan humor cerdas tetap dihadirkan, menjadikan pertunjukan ini tetap setia pada akarnya meski secara estetika melangkah ke masa depan.

Tokoh futuristik dari Mencari Semar (Dok. Antara/Hafidz Mubarak A)

Produser Ratna Riantiarno berharap Mencari Semar bisa menjadi ruang perayaan atas panggung sebagai tempat kebebasan berekspresi, sekaligus ajakan untuk tidak melupakan nilai-nilai budaya dalam menghadapi dunia yang semakin asing dan kompleks.

Helmi Rafi J

Helmi Rafi J

Helmi Rafi Jayaputra (Depok, 1996) mengambil langkah baru dengan mendirikan Kolase Kultur, sebuah media alternatif di Depok yang berfokus pada seni dan budaya. Kolase Kultur hadir sebagai platform yang menjembatani berbagai ide dan gagasan serta menjadi ruang kolaborasi inklusif antara seniman, kurator dan komunitas. Sebelumnya Helmi bekerja selama 9 tahun sebagai Creative Generalist dan menyelesaikan beragam proyek dokumenter di berbagai kelembagaan non-profit, diantaranya; Penabulu Foundation (2015) dengan isu mengurangi tingkat emisi karbon dunia, Human Rights Working Group (2018) dengan isu Kebebasan Beragama dalam Hak Kemanusiaan, Sawit Watch (2021) dengan isu perhutanan sosial dan konservasi sawit, dan Pandu Laut Nusantara (2024) dengan isu konservasi laut dan pemberdayaan masyarakat pesisir. Di ranah perfilman, Helmi terlibat dalam INDICINEMA, jaringan bioskop alternatif Indonesia yang berpusat di Bandung. Sejak 2019, ia turut mendirikan dan mengelola satu-satunya bioskop alternatif di Depok. Saat ini aktif membangun dan menulis di Kolase Kultur.
Keep in touch with our news & offers

Subscribe to Our Newsletter

What to read next...

Comments

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *