Make your inbox happier!

Subscribe to Our Newsletter

Depok Bergemuruh: Distrik Lokalin Jadi Titik Temu Musisi Lintas Kota

Depok kembali membuktikan potensinya sebagai kota kreatif dengan gelaran Distrik Lokalin yang diinsiasi oleh Distrik_170 dan Pemuda Dalam Gang, sebuah acara musik alternatif yang mengundang musisi lintas kota dalam suasana yang penuh semangat. Selain grup musik Depok, Arc Yellow dan Olsam, Distrik Lokalin dikunjungi grup musik The Dare yang jauh-jauh datang dari Lombok dan Enola …

Depok kembali membuktikan potensinya sebagai kota kreatif dengan gelaran Distrik Lokalin yang diinsiasi oleh Distrik_170 dan Pemuda Dalam Gang, sebuah acara musik alternatif yang mengundang musisi lintas kota dalam suasana yang penuh semangat. Selain grup musik Depok, Arc Yellow dan Olsam, Distrik Lokalin dikunjungi grup musik The Dare yang jauh-jauh datang dari Lombok dan Enola dari Surabaya.

Arc Yellow menjadi pembuka. Band yang sebelumnya merasa belum memiliki tempat showcase di kota sendiri, malam itu, akhirnya merasa punya “rumah”. Mereka tampil dengan penuh keyakinan disambut meriah oleh penonton.

“Kalau kata Acong a.k.a Zam (vokalis Olsam), rapatkan barisan dan luruskan shaf, yok merapaaaat!” ujar Gilang, vokalis & gitaris Arc Yellow, sebelum membawakan salah satu lagu andalan mereka.

Arc Yellow membuka Distrik Lokalin.

Dalam wawancara singkat, Gilang merasa puas karena acara ini sesuai harapan. Ia optimis acara seperti ini bisa berkembang, karena komunitas musik di Depok sebenarnya punya banyak potensi. Meskipun acara musik cukup sering diadakan di Depok, namun acara dengan lineup yang berani dan banyak seperti ini masih jarang. Penyelenggaraan kali ini bisa dibilang istimewa karena menyatukan band-band lokal lintas kota dengan keberanian tampil yang mungkin masih asing bagi publik Depok.

Gilang merasa pergelaran ini sudah terlanjur memulai sesuatu yang baik, jadi harus diteruskan. Kalau tidak, akan terasa sia-sia.

“Ini harus lanjut sih, sayang kalau enggak. Karena, kayak lo udah terlanjur nyendok nasi aja. Kan kalau gak dimakan, mubazir,” ucap Gilang yang berharap komitmen pada scene lokal harus terus dijaga.

Sejak sore, suasana Distrik Lokalin sudah ramai. Makin malam, makin padat. Bukan cuma dari Depok, penonton banyak dari Jakarta, Bogor dan Bekasi. Momen-momen seperti ketika penonton jongkok bersama lalu loncat serentak diiringi teriakan “Depok, are you ready?” menjadi highlight yang akan sulit dilupakan.

Beberapa band seperti Katalika dari Jakarta dan Enola dari Surabaya menghadirkan nuansa dark yang penuh atmosfer, namun tetap membawa ruang kontemplatif di tengah keramaian, ada fase “calm down” yang memberikan keseimbangan emosional.

Olsam tampil di Distrik Lokalin. (Dok. Febryan Dito)

Tak bisa dipungkiri, OLSAM tampil sangat berbeda dari yang lain. Membawa semangat lokalitas Depok lewat pantun, rima, dan pengibaran bendera sendiri lewat para penontonnya, mereka adalah representasi paling kuat dari semangat “This is Depok, Pioneer City.” Bahkan, vokalisnya, Zam, menjadi salah satu penggagas lahirnya kembali Distrik 170, yang sebelumnya sempat hiatus 2 tahun lamanya.

Dalam wawancara singkat, Zam merasa senang karena Depok akhirnya dikunjungi oleh banyak band luar kota.

“Ya senang lah ya karena didatengin sama kawan lama, sebenarnya udah lama banget temen-temen di luar kota juga pada pengen main di Depok. Tapi sekali lagi ya kita terbatas ruang, mudah-mudahan tempat yang ada hari ini bisa dijaga bareng-bareng gitu,” ujar Zam.

Selama ini, Depok kerap mengalami fragmentasi antar komunitas musik. Banyak yang belum hadir atau enggan memenuhi kebutuhan akan ruang bersama. Namun malam itu, Distrik Lokalin membuktikan bahwa pertemuan bisa terjadi, kolaborasi bisa dijalin, dan perbedaan genre tak jadi penghalang. Depok tak lagi hanya persinggahan, kini menjadi tuan rumah untuk band – band lokal.

The Dare disambut gemuruh oleh penonton. (Dok. Febryan Dito)

The Dare band asal lombok yang berisi 4 personil perempuan juga meramaikan Distrik Lokalin. Riri sang vokalis, menyatakan bahwa ini menjadi pertama kalinya mereka menjejaki Depok.

“Bener-bener 1 Agustus 2025 ini first time banget main ke Depok, dan ternyata rame, panas dan macet, tapi seru banget! Semoga Depok sering-sering undang band lokal kayak kita, supaya bisa balik lagi kesini!” ungkap Riri.

Acara ditutup oleh Sajama Cut, band veteran yang juga sudah lama menjadi panutan dalam skena musik independen Indonesia. Penampilan mereka adalah penutup yang sempurna, menandai bahwa Depok siap untuk lebih banyak lagi peristiwa budaya di masa yang akan datang.

Helmi Rafi J

Helmi Rafi J

Helmi Rafi Jayaputra (Depok, 1996) mengambil langkah baru dengan mendirikan Kolase Kultur, sebuah media alternatif di Depok yang berfokus pada seni dan budaya. Kolase Kultur hadir sebagai platform yang menjembatani berbagai ide dan gagasan serta menjadi ruang kolaborasi inklusif antara seniman, kurator dan komunitas. Sebelumnya Helmi bekerja selama 9 tahun sebagai Creative Generalist dan menyelesaikan beragam proyek dokumenter di berbagai kelembagaan non-profit, diantaranya; Penabulu Foundation (2015) dengan isu mengurangi tingkat emisi karbon dunia, Human Rights Working Group (2018) dengan isu Kebebasan Beragama dalam Hak Kemanusiaan, Sawit Watch (2021) dengan isu perhutanan sosial dan konservasi sawit, dan Pandu Laut Nusantara (2024) dengan isu konservasi laut dan pemberdayaan masyarakat pesisir. Di ranah perfilman, Helmi terlibat dalam INDICINEMA, jaringan bioskop alternatif Indonesia yang berpusat di Bandung. Sejak 2019, ia turut mendirikan dan mengelola satu-satunya bioskop alternatif di Depok. Saat ini aktif membangun dan menulis di Kolase Kultur.
Keep in touch with our news & offers

Subscribe to Our Newsletter

What to read next...

Comments

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *