Make your inbox happier!

Subscribe to Our Newsletter

The Cottons: Api Kecil yang Selalu Menyala

Sewaktu menghadiri konser Padepopan tanggal 7 Desember 2025 lalu, gue dengan rasa bersyukur ditemukan dengan salah satu musikus paling keren, yaitu The Cottons. Band pop asal jakarta ini musiknya bener-bener baru banget buat seseorang seumuran gue yang hampir menginjak kepala 4. Katanya menurut teori, orang yang sudah mencapai umur-umur tertentu belum dan bahkan tidak bisa …

Sewaktu menghadiri konser Padepopan tanggal 7 Desember 2025 lalu, gue dengan rasa bersyukur ditemukan dengan salah satu musikus paling keren, yaitu The Cottons. Band pop asal jakarta ini musiknya bener-bener baru banget buat seseorang seumuran gue yang hampir menginjak kepala 4. Katanya menurut teori, orang yang sudah mencapai umur-umur tertentu belum dan bahkan tidak bisa menerima musik baru, tapi The Cottons bagai sebuah jarum bener-bener menyuntikan sebuah harapan dengan menggugurkan teori tersebut.

Ketika ditemui di sela-sela perlehatan musik yang berlokasi di Terminal Jatijajar, Depok, The Cottons sempet melakukan press meet dengan dua orang jurnalis, dari berita mahasiswa dan berita online. Di sana, mereka ditanya “siapa musikus yang paling disukai?” dan dijawab dengan sederhana oleh Kaneko Pardede & Yehezkiel Tambun “Kita nggak tahu ya siapa…. tapi karena kita sekarang di sini, gue jawab Elton John, deh.” Dari situ gue belajar bahwa ada sebuah ruang dan waktu yang bisa diapresiasi dengan sikap dengan persepsi sekarang, karena keesokan atau yang dulu kita bisa beda.

Salah satu lagu-nya, Lentera adalah sebuah musik yang sangat memukau sekaligus mengguyurkan rasa syukur kepada kita untuk bisa menghadapai emosi sehari hari, dikala memulai perlehatan musik pada siang yang puanassss sekali itu. Sebagai seorang yang penasaran tentu memaknai lagu itu bisa dicoba-coba, dicari tahu, langsung ke musikusnya. Bagi mereka, Lentera ini adalah ekspresi mereka sebagai orang tua baru yang mencoba menerobos waktu dan melihat ke masa depan yang bisa aja penuh tantangan. Bagi mereka lagu ini sangat personal dengan bagaimana kita bisa memiliki keyakinan dan kepercayaan yang teguh walau di tengah badai.

The Cottons saat interview. (Dok. Zakki/KolaseKultur)

COCOK sih emang, karena baru-baru ini, kita bangsa Indonesia sedang diuji dengan musibah bencana. Sebagai pengantar, ketika lagu ini dimainkan pada acara Padepopan seolah mengisyaratkan bahwa kita akan memulai acara akan energi dan banyak rintangan ke depan tapi tetaplah cool aja.

Ketika mendengar lagu ini, sebenarnya nggak ngeh sama sekali namun mulai terasa ketika hujan turun. Tidak ada rasa panik yang luar biasa yang bisa dibandingkan daripada air turun dari langit dan membuat badan lengket di tengah acara musik. Apalagi kita udah siap kan?!? Ganteng dan kece, eh malah disebor air, aduh semua bisa kacau.

Tetapi keteguhan The Cottons lewat musiknya dan liriknya mengajarkan bahwa basah dikit itu nggak apa-apa, bahkan baju basah dan juga memiliki badan lengket dengan air hujan kayaknya sih tidak mengurangi kebahagiaan. Di tengah keramaian itu, ternyata semua orang nggak panik emang, nggak ada kekacauan. Mungkin cara orang tua itu beda, mereka melihat dengan tetep cool seperti penonton yang nggak panik berlebihan.

Pesan-pesan kaya gini kadang bisa ditemukan diberbagai detik kehidupan kita, bahkan dari sebuah lirik lagu yang tak terlalu panjang.

Ketika ditanya, di mana posisi mereka sekarang? “Ya, kita sempet vakum aja, dan sekarang kita udah hadir lagi.” Dalam hati bergumam “Ya emang iya ya, hidup sesimpel itu, kalau capek ya istirahat, kalau sedih ya nangis, kalau lagi nggak produktif ya vakum aja.” Sehabis itu kita bisa mendapatkan semangat baru, mendapatkan harapan baru. Bagi gue, musik itu memang media yang cocok yang bisa menjahit berbagai sensasi ini dalam waktu yang singkat (durasi lagu), dan maknanya bisa hadir berulang-ulang dalam seumur hidup kita sebagai manusia.

Bagi gue, The Cottons mengajarkan agar bisa bertahan dengan santai di situasi apapun, menyalakan api kecil yang abadi. Thanks for the experience.

Ahmad Zakki

Ahmad Zakki

Ahmad Zakki "Bang Jek" Abdullah (Tasik, 1990) adalah seorang yang menyebut-nyebut dirinya mistikus yang ilmiah. Walaupun mengaku berumur masih muda, ada kecurigaan bahwa dia sebenarnya sudah berumur kepala 5. Dia merasa bahwa menulis adalah sumber agar "awet muda". Sehari-hari mengaku sebagai pengajar di menulisfilm.com dan akhirnya sebagai sejarawan yang serba tahu dan menjadi penulis di Kolase Kultur. Tulisannya adalah gabungan antara SEO dan ekspresionis yang katanya sudah muak dengan gaya menulis jurnal ilmiah. Dia memiliki kehidupan kedua yang "normal" mengajar mahasiswa di universitas yang berlokasi di selatan Jakarta. Selain itu juga mengajar di beberapa tempat lain seperti Univ. IMA, Univ. Nasional, IDS dan Vokasi UI. Dia menawarkan diri sebagai "konsultan produksi" di bidang audio-visual, pengolah data sosial dengan metode NLP dan NVivo di bidang penelitian, pengamat AI di bidang informasi sains dan ahli komunikasi jaringan yang tersertifikasi (walau tidak pernah menunjukan sertifikatnya).
Keep in touch with our news & offers

Subscribe to Our Newsletter

What to read next...

Comments

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *