Pameran lintas disiplin kota Depok

Daraskota 2026

A Raw Praxis: Dhellet dan Orse (Part II)

Berkaca dari tema "strukturasi" yang diusung oleh pameran Daraskota, kita dapat menelaah ekosistem street art di Depok sebagai sebuah proses strukturasi. Salah satu teoritikus strukturasi terdepan, Anthony Giddens, berargumen bahwa terdapat hubungan timbal balik yang konstan antara agen dan struktur sosial yang menaunginya2. Dengan demikian, struktur sosial sama-sama merupakan medium dan produk dari hubungan timbal …

Berkaca dari tema “strukturasi” yang diusung oleh pameran Daraskota, kita dapat menelaah ekosistem street art di Depok sebagai sebuah proses strukturasi. Salah satu teoritikus strukturasi terdepan, Anthony Giddens, berargumen bahwa terdapat hubungan timbal balik yang konstan antara agen dan struktur sosial yang menaunginya2. Dengan demikian, struktur sosial sama-sama merupakan medium dan produk dari hubungan timbal balik tersebut. Dalam bingkai ini, perilaku menimbulkan struktur, dan struktur mendefinisikan perilaku. Ketika saya meminta Dhellet dan Orse untuk membandingkan pengalaman mereka berkarya di atas kanvas dengan pengalaman membuat graffiti di jalan, keduanya mengakui bahwa ada kenyamanan dan familiaritas di jalan yang mereka tidak temukan di depan kanvas. Kenyamanan dan familiaritas itu dibentuk selama bertahun-tahun bertungkus lumus dan bereksperimen di lingkungan street art; mengembangkan identitas artistik yang tidak hanya mencerminkan subyektivitas, tetapi juga komunitas di mana mereka tumbuh dan belajar. Komunitas itu adalah tempat unik di mana praksis mereka dapat berkembang, dan praksis mereka memastikan komunitas itu terus berjalan.

Kendati pemaparan Dhellet dan Orse mengenai preferensi mereka berkarya di lingkungan street art mengisyaratkan bahwa ekosistem street art selayaknya tidak diwacanakan dengan “bahasa” yang sama dengan seni kontemporer mainstream, saya masih penasaran mungkinkah kedua dunia itu bertemu tanpa harus mengorbankan identitas yang satu demi yang lain? Apabila “konsumen” dalam rantai produksi seni seringkali dipahami sebagai para pengunjung pameran dan patron seni, apa padanannya dalam medan street art? Menurut saya pertanyaan ini penting, karena mustahil bagi sebuah infrastruktur untuk mencapai keberlanjutan apabila ia hanya mengandalkan upaya-upaya yang dilakukan para pelakunya. Dari mana para pelaku street art dapat memperoleh resources yang dibutuhkan untuk mengadakan acara-acara besar seperti GAKON? Apakah salah satu solusinya mereka harus turut berpameran di galeri komersil?

Dhellet dan Orse saat diwawancara Rizki Asasi (Dok. Dheny Rhestu / Kolase Kultur)

Jawabannya adalah ya dan tidak. Di satu sisi, Dhellet mengamati bahwa selama beberapa tahun terakhir, ada sejumlah street artist yang berhasil terjun ke dalam medan seni kontemporer melalui infrastruktur galeri komersil di mana karya-karya mereka dikemas ulang sebagai objek seni yang displayable dan kolektibel—baik dalam bentuk karya 2-dimensi, 3-dimensi, maupun merch. Beberapa dari mereka bahkan mendapatkan kesempatan memamerkan karya mereka secara internasional dan berkolaborasi dengan luxury brand3. Di sisi lain, Orse menawarkan mode berkarya yang tidak diorientasikan pada profit, beranggapan bahwa “Yang penting konsisten berkarya tanpa terlalu mikirin bakal ngehasilin profit atau nggak, karena kesempatan untuk collab dengan venue atau brand akan datang dengan sendirinya secara organik.”

Pada akhirnya, pengunjung galeri dan kolektor tidak dapat dibilang representatif terhadap publik seni secara keseluruhan. Baik seorang street artist maupun seniman bergelar PhD yang dikontrak oleh galeri internasional memiliki opsi untuk menjemput konsumen atau mengembangkan kekaryaannya sedemikian rupa sehingga dijemput oleh konsumen—atau melakukan keduanya. Semuanya seakan membawa kita kembali ke wacana seputar komunitas dan bagaimana ia secara simultan membentuk dan dibentuk oleh individu-individu berkedaulatan. Melalui berkomunitas, kita dapat mengidentifikasi orang-orang yang bersedia dan mampu memperkokoh jaringan secara kolektif, dan bersama-sama membangun infrastruktur yang niche tetapi juga inklusif—bertolak dari kebutuhan hari ini tanpa menutup diri terhadap kemungkinan-kemungkinan baru di masa depan.

Rizki Asasi

Bandung, Februari 2026

Catatan kaki:

1 jamming = kegiatan membuat graffiti secara kolaboratif di suatu lokasi tertentu.

2 lihat bab Elements of the Theory of Structuration di The Constitution of Society (1984) oleh Giddens.

3 Dhellet dan Orse merujuk pada Darbotz sebagai salah satu contoh street artist yang go international.

Rizki Asasi

Rizki Asasi

Rizki Asasi adalah kurator pemangku dan manajer program di Galerikertas, sebuah ruang seni nirlaba yang merupakan bagian dari Studiohanafi di Parung Bingung, Depok. Ia bertanggung jawab mengelola dan mengkurasi program pameran dan residensi di Galerikertas sejak 2022. Beberapa pameran terbaru di Galerikertas antara lain Khôra: Di Antara (2025) oleh kelompok seniman residen bimbingan K.P. Nugroho dan Merangkai Luang—Hingga Lapang oleh Ajiba (2025). Saat ini sedang menyelesaikan studi pasca sarjana di program Manajemen Seni dan Kekuratoran di ITB.
Keep in touch with our news & offers

Subscribe to Our Newsletter

What to read next...

Comments

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *