Pameran lintas disiplin kota Depok

Daraskota 2026

Bobby Satya R dan Kenangan Bernama Depok “Gotham” City

Di antara riuh angkot warna-warni dan gedung-gedung renta yang seperti lupa direnovasi, Bobby Satya Ramadhan menemukan semesta kecilnya sendiri. Ia tumbuh di Cilodong, Depok, kota yang sering dijadikan bahan lelucon, tapi jarang dibaca sebagai lanskap artistik. “Depok tuh absurd,” katanya sambil tertawa di malam itu. Dan dari absurditas itu, ia memanen warna dan karya. Sejak …

Di antara riuh angkot warna-warni dan gedung-gedung renta yang seperti lupa direnovasi, Bobby Satya Ramadhan menemukan semesta kecilnya sendiri. Ia tumbuh di Cilodong, Depok, kota yang sering dijadikan bahan lelucon, tapi jarang dibaca sebagai lanskap artistik.

“Depok tuh absurd,” katanya sambil tertawa di malam itu.

Dan dari absurditas itu, ia memanen warna dan karya.

Sejak kecil, Bobby mengenal gambar dari majalah dan komik yang ia baca, ia bercerita banyak bagaimana ia tidak sengaja menemukan komik-komik yang dibelikan oleh orang tuanya di rumah, dan visual yang ia lihat menjadi teman masa kecil Bobby.

Gaya retro-vintage ala kartun amerika 70-80an, garis tebal, ekspresi hiperbolik, warna-warna pudar, menempel di kepalanya. Ia tak menyebutnya sebagai referensi, tapi kebiasaan visual yang secara tidak langsung mempengaruhi ia mengurat garis. Dalam teori visual culture (Nicholas Mizoeff, 1999), pengalaman melihat bukan sekadar konsumsi gambar, melainkan pembentukan cara berpikir. Apa yang kita lihat berulang-ulang, membangun dunia batin kita.

Bobby adalah contoh hidup dari itu.

Jika banyak orang melihat Depok sebagai kota transit antara Jakarta dan entah kemana, Bobby melihatnya sebagai panggung surealis. Ia pernah berseloroh, “Nggak perlu jauh ke Brooklyn atau New York. Kalau Bob Kane atau Bill Finger tinggal di Depok, mungkin Gotham City mirip di sini.”

Candaan itu bukan humor belaka. Dalam sejarah komik, Gotham memang lahir dari pembacaan atas kota modern yang gelap dan kontradiktif. Kota sebagai karakter, kota sebagai imajinasi. Kota tidak pernah menjadi ruang yang netral, ia berubah dan diproduksi oleh pengalaman, relasi sosial, dan imajinasi. Bobby melakukan hal yang sama pada Cilodong. Warga, warung kopi, gang, obrolan tongkrongan, semuanya menjelma menjadi karakter yang tanpa ia sadari.

Ia pernah kesulitan menemukan wadah seni di Depok semasa sekolah. Ruang kolektif terasa minim, percakapan seni jarang bertumbuh. Baru ketika ia mengenyam pendidikan seni di Jakarta, ia menemukan ekosistem diskusi, kritik karya, dan yang paling penting: kebersamaan.

Saya ingat betul bagaimana ketika mengenyam bangku sekolah dulu, kami sering bercerita, bertukar referensi musik, komik, dan kemungkinan-kemungkinan lain yang terasa terlalu liar untuk anak seusia itu di Depok. Dan kemungkinan itu, Bobby merawatnya menjadi sebuah karya.

Dari pengalaman itulah lahir Lazy Sunday Zine Club 

Sejak November 2022, kolektif ini aktif memproduksi zine kolektif dan personal. Konsepnya sederhana: klub zine hepi-hepi, inklusif, terbuka, dan murah. Mereka sadar bahwa zine yang secara historis adalah medium perlawanan dan ekspresi mandiri seringkali terjebak menjadi barang eksklusif ketika masuk pasar seni.

“Kita heran sih, riso (risograph) kenapa bisa jadi mahal ketika masuk kesini, padahal di luar (luar negeri) itu murah”

Sebagai respons, mereka membuat “Rinso”, permainan kata yang satir sekaligus politis. Mereka membeli mesin cetak tua, lalu memproduksi zine sendiri agar tetap terjangkau. Lazy Sunday secara tidak langsung melawan eksklusivitas dengan aksesibilitas.

Dalam perspektif hari ini ketika kita melihat lanskap kesenian, dunia seni selalu berada dalam tarik-menarik antara kapital simbolik dan kapital ekonomi. Lazy Sunday memilih jalur yang tidak tunduk sepenuhnya pada logika pasar. Mereka ingin beredar dan bersenang-senang, bukan terkurung dalam etalase.

(Dok. Denny Rhestu/Kolase Kultur)

“Kalau berkarya tuh enakan kolektif,” kata Bobby. “Affandi juga pasti punya asisten, atau minimal temen brainstorming.”

Romantisasi seniman tunggal yang menderita sendirian memang mitos yang panjang. Praktik seni kontemporer justru menunjukan pentingnya kolaborasi, peer review, dan ruang aman untuk gagal. Kolektif menjadi ekosistem belajar.

Dan di sinilah kritik terhadap Depok menemukan nadanya.

Bukan pada keabsurdan kota. Justru absurditas itu kaya. Masalahnya adalah kurangnya ruang aman dan wadah yang membuat anak muda bisa bertumbuh tanpa harus “pergi dulu” ke kota lain. Jika kota adalah ruang produksi imajinasi, maka absennya ruang diskusi adalah absennya masa depan visual.

Bobby membuktikan bahwa inspirasi tidak harus datang dari kota global. Angkot yang catnya terkelupas pun bisa menjadi palet warna. Gedung usang bisa menjadi latar komik. Kehidupan sehari-hari bisa menjadi mitologi baru.

Barangkali yang kita butuhkan bukan kota yang lebih rapi, tapi keberanian untuk membaca kota sebagai teks dan gambar, karena gambar bukan hanya representasi; ia adalah sistem tanda yang bisa kita tafsirkan ulang.

Bobby memilih untuk menafsirkan Depok, ia tidak lari dari absurditasnya, ia menggambar ulang kotanya.

Dan mungkin, di tangan anak-anak Cilodong atau Depok lainnya, Depok bukan lagi kota pinggiran, melainkan Gotham versi tropis yang penuh warna, penuh karakter, dan penuh kemungkinan.

Karena pada akhirnya, kota hanyalah latar. Yang membuatnya hidup adalah mereka yang berani menggoreskannya.

Proses wawancara Bobby oleh Damas (Dok. Denny Rhestu/Kolase Kultur)

Damasara Rinu Buhaliawan

Damasara Rinu Buhaliawan

Merupakan pegiat budaya memulai aktivitas menulis sejak masa kuliah. Ia berangkat dari media Goodshuffle, Living Society dan pergerakan kolektif di Teras Kolektif—sebuah kolektif musik yang turut membentuk skena independen hari ini. Ia kini terlibat dalam berbagai proyek budaya di Pamitnya Meeting, ruang komunal tempat seni, obrolan, dan praktik lintas disiplin saling bertemu. Salah satu kegiatannya bernama “Jump in Puisi” yang merawat ingatan bagaimana puisi menjadi sebuah medium cerita dan arsip dari kehidupan. Di luar itu, ia bekerja sebagai Digital Officer di Greenpeace Indonesia.
Keep in touch with our news & offers

Subscribe to Our Newsletter

What to read next...

Comments

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *