Melintasi Batas Melalui Goresan Iseng Bagi Yudha, layar komputer bukan sekadar medium kerja, melainkan jendela menuju dunia yang tak bertepi. Semuanya bermula dari sebuah langkah impulsif pada tahun 2011. Sebagai penggemar berat musik thrash, ia mengunggah sebuah karya yang ia buat khusus untuk Common Enemy, band asal Amerika Serikat, lalu menandai mereka di Facebook. Siapa …
Crucial Madness: “Depok Tempat Untuk Menumbuhkan Kreativitas”

Melintasi Batas Melalui Goresan Iseng
Bagi Yudha, layar komputer bukan sekadar medium kerja, melainkan jendela menuju dunia yang tak bertepi. Semuanya bermula dari sebuah langkah impulsif pada tahun 2011. Sebagai penggemar berat musik thrash, ia mengunggah sebuah karya yang ia buat khusus untuk Common Enemy, band asal Amerika Serikat, lalu menandai mereka di Facebook. Siapa sangka, tindakan “iseng” yang didasari rasa hormat itu memicu reaksi positif yang luar biasa dan menjadi kunci pembuka gerbang internasional baginya.
“Modal iseng dan respect ke band, malah jadi pintu pembuka buat gua main di luar,” ujar Yudha sembari tertawa.
Sejak saat itu, garis-garis tegas nan kelam karya Yudha mulai melanglang buana. Namanya tercatat dalam berbagai proyek visual untuk entitas musik global, mulai dari Bomb Scared di New York, Scared Earth di Swedia, KarasuKiller di Jepang, hingga Zanjeer di Berlin dan Janpalach di Ukraina.
Bahkan saat pandemi COVID-19 melumpuhkan dunia, kreativitasnya justru semakin berkibar; ia menjalin kolaborasi selama dua tahun dengan jenama distro asal Los Angeles, LA Morte XIII. Bagi Yudha, tidak ada perbedaan kasta antara klien lokal maupun luar negeri. Baginya, setiap goresan adalah bentuk komunikasi personal dan penghargaan terhadap budaya yang berbeda-beda.
“Tiap klien pasti punya cerita uniknya masing-masing, dan dari situ gua jadi makin banyak belajar soal cara kerja di luar sana,” tukasnya.
Antara Tengkorak dan Kegilaan
Jauh sebelum ia dikenal sebagai sosok di balik visual gore yang mencekam, Yudha hanyalah seorang anak sekolah dasar yang gemar mencoret-coret kertas tanpa bentuk yang jelas. Titik baliknya terjadi saat matanya terpaku pada sampul kaset “Satu Guru Satu Ilmu Beda Jurus” karya Kenji. Visual tengkorak yang melakukan circle pit mengelilingi seekor naga itu menyulut api kekaguman dalam dirinya.
“Berangkat dari kekaguman sama karya itulah, gua mulai suka dan benar-benar tertarik buat nyemplung di dunia artwork sampai sekarang,” ujar Yudha yang belakangan menggunakan nama pena Crucial Madness.
Selain Kenji aka Ken Terror, ia juga mengidolakan banyak nama seperti Septian Fajrianto, Youngest, Garis Edelweiss, Wagunawiryawan, sampai Devil Reject Art, Pushead, Aaron Horkey, Akihiko Sugimoto, sampai Yossie Thrashgraphic, dan Mark Riddick sebagai penyulut semangatnya menggambar. Sejak itu, horor, gore, dan tema-tema gelap dari film seperti Human Centipede atau Saw juga menjadi bahan bakar imajinasinya.
“Gua enjoy aja nuangin kegilaan dari apa yang gua tonton ke dalam gambar,” ujarnya.
Nama Crucial Madness sendiri tidak lahir dari ruang hampa. Nama itu muncul di sebuah titik nadir, saat Yudha terjepit di antara tekanan tenggat waktu yang mencekik dan suasana hati yang berantakan. Di tengah momen kritis itulah, ia merasa seolah akan gila karena harus mengontrol segalanya sendirian. “Crucial” untuk momen gentingnya, dan “Madness” untuk kegilaan prosesnya—sebuah identitas yang akhirnya ia sandang dengan bangga sejak ia memutuskan terjun serius ke dunia artworker pada 2008.
“Akhirnya keterusan pakai nama itu sampai sekarang karena keren aja sih,” jawabnya padat.

Depok: Rumah di Balik Bayang-Bayang
Jika ada satu tempat yang paling bertanggung jawab menempa mental seorang Yudha, tempat itu adalah Depok. Kota ini bukan sekadar titik koordinat tempat ia tumbuh, melainkan sebuah ekosistem yang hidup dan saling merangkul. Di masa awal perjalanannya, Yudha adalah sosok yang didera rasa malu dan ketakutan akan penerimaan karyanya. Namun, kehangatan skena musik di Depok mengubah segalanya.
“Kota ini punya andil gede banget buat perjalanan gua. Kontribusinya nggak main-main,” ujar Yudha.
Di Depok, ia menemukan lingkungan di mana band-band lokal dan para seniman tidak pelit berbagi ilmu. Teman-temannya terus mendorongnya untuk “muncul” dan menunjukkan taringnya ke permukaan. Gigs-gigs kecil dan kolaborasi antar-teman menjadi laboratorium tempat ia mengasah keberanian. Bagi Yudha, Depok adalah rumah yang memberinya napas untuk terus konsisten hingga saat ini. Tanpa dorongan dan semangat dari kawan-kawannya di kota tersebut, mungkin “kegilaan yang krusial” itu tidak akan pernah terdengar hingga ke belahan bumi lain.
“Depok emang tempat yang tepat buat tumbuh sih kalau menurut gua,” ucapnya.
“Langkah awal gua berasa jauh lebih ringan karena lingkungannya emang suportif dan frekuensinya nyambung banget sama apa yang gua kerjain.”






