Dinaungi pohon tua yang dipeluk Sirih Gading berselirat, dibayangi udara Depok pembawa gaung kendaraan, ia tampak tenang. Seperti biasa, wibawa yang meliputinya kerap membuat lawan bicaranya terperanjat saat mengetahui bahwa usianya baru menapaki 31 tahun. Tak hanya itu tentunya; Adlino Dananjaya, yang biasa disapa Danan, juga memiliki rentetan prestasi yang impresif. Wawancara pun dimulai; dan …
Adlino Dananjaya: Penjahit Jejak dalam Bingkai

Dinaungi pohon tua yang dipeluk Sirih Gading berselirat, dibayangi udara Depok pembawa gaung kendaraan, ia tampak tenang. Seperti biasa, wibawa yang meliputinya kerap membuat lawan bicaranya terperanjat saat mengetahui bahwa usianya baru menapaki 31 tahun. Tak hanya itu tentunya; Adlino Dananjaya, yang biasa disapa Danan, juga memiliki rentetan prestasi yang impresif. Wawancara pun dimulai; dan di hadapan perbincangan mengenai subjek kesukaannya, binar menyeruak. Menyita ruang di mata yang tadinya teduh, menjadi kobar penuh semangat.
Sekarib Air Ketuban
Kesenian rupanya memang begitu karib dengan Danan. Kedua orang tuanya seniman, lulusan Institut Kesenian Jakarta. Mereka memperkenalkannya pada berbagai bidang seni; lukis, musik, juga film. Sang Ayah, Subarkah Hadisarjana, seorang seniman multidisiplin yang sangat dihormati di dunia kesenian–khususnya tata rias dan teater–memperkenalkannya pada film-film Chaplin di masa kanaknya setelah ia tersirap pada “Petualangan Sherina” yang disaksikannya di bioskop penuh orang. Ibundanya, Rima Ananda Omar, seorang penata busana yang mumpuni di seni pertunjukan, kerap menggelar ‘bengkel’ artistiknya di rumah. Danan menyerap ini semua tanpa pilih kasih; rona palet pidih berbagai warna, aroma lateks yang menyengat, gemerincing manik-manik pada kain satin, tekstur busa hati yang diukir jadi ornamen kostum. Kesenian layaknya dapur keluarga nan hangat tempat ia bisa mencicipi berbagai wajah dunia.
Depok memang menjadi latar pertama keseniannya; ia bermain-main dan mengeksplorasi dengan bebas tanpa niat untuk menjadi profesional. Kolega diskusi dan eksplorasi pertamanya adalah kawan-kawan yang diajaknya karena alasan proksimitas dan familiaritas, berlatar kafe-kafe andalan wilayah Depok Dua seperti Jacob’s Koffie Huis. Pada 2011, saat bersekolah di SMA PGRI Cibinong, Bogor, ia mengikuti ekskul film, dan dengan rasa lapar yang menggebu, membuat film pertamanya berjudul “Bibir si Asnun”. Film ini kemudian ia lempar ke sebuah festival film di Cianjur dan mendapat empat penghargaan, termasuk aspek penyutradaraan. Peristiwa inilah yang membuatnya yakin bahwa inilah jalannya.
Tangan Gemetar yang Tetap Teracung
Ketika ia akhirnya memutuskan untuk menjadi mahasiswa film Institut Kesenian Jakarta, ia melangkah dengan mengantongi dukungan dari kedua orangtuanya. Meski keputusan mendaftar IKJ adalah hal yang natural baginya–mengingat ketertarikannya yang begitu kuat pada kesenian dan kedekatannya dengan lingkungan tersebut–pemilihan jurusan yang nantinya menjadi bidang utamanya itu tidaklah mudah. Namun kata-kata sang Ayah menyadarkannya bahwa seni film, seperti halnya teater, menyatukan berbagai disiplin lainnya. Memilih seni film tidak berarti ia meninggalkan seni-seni lainnya, justru memperdekat keterjalinannya dengan semua itu. Danan pun membulatkan tekad, dan keluarganya merayakan lahirnya seorang pegiat film pertama dalam keluarga.
Dalam awal perjalanannya sebagai mahasiswa baru perfilman, Danan mendapati dirinya berada di tengah lautan tangan teracung tinggi saat dihadapkan pada pertanyaan “siapa yang mau jadi sutradara?”. Seiring berjalannya waktu, Danan pun memiliki momen goyah; semakin banyak ilmu perfilman yang ia reguk, semakin ia sadar betapa luasnya sisa lautan pengetahuan perfilman yang belum ia telan. Mau tidak mau, tangannya gemetar juga, seperti halnya tangan puluhan mahasiswa lainnya yang kini memilih membuka halaman baru di bidang lain saat mendengar pertanyaan itu. Namun, meski sengkarut, ia menolak ciut. Untuk tetap berada di jalur besar penyutradaraan, ia mencari jalan lain yang lebih jarang dilalui orang, bernama “penyutradaraan dokumenter”. Pada saat itu, jalan itu hanya diisi oleh tiga tangan teracung.
Sang Penjahit Jejak yang Selalu Lapar
Kecintaannya pada eksplorasi bentuk-bentuk baru menyebabkan portofolionya penuh warna berbeda. Pada periode perkuliahannya, ia mencicipi segala genre baik sebagai tugas kuliah maupun project kolektif independen–seperti yang ia lakukan bersama Weekend Film. Mereka melahirkan karya-karya fiksi dengan genre komedi, drama, bahkan folk horror, seperti “Kasarean”, yang berkisah tentang orang yang tidur saat maghrib.
Namun, Danan memiliki ketertarikan khusus pada dokumenter. Dibanding fiksi, baginya dokumenter lebih menyediakan ruang besar untuk eksplorasi di lapangan dan post-produksi. Rencana yang dirancang sedemikian rupa di awal tidak mutlak digenapi di akhir; dokumenter mewajibkan pegiatnya berjalan bergandengan dengan ketidakpastian lapangan dan kepekaan terhadap momentum.
Rupanya Danan malah berdansa dengan fakta ini. Contohnya saat ia mencipta ”Ballad of a Keeper”, tentang seorang penjaga hewan di Ragunan yang tetap berbakti pada tugasnya meski telah pensiun. Kisah The Keeper ditemukan lewat ‘dansa’-nya dengan lapangan; khususnya dalam bentuk observasi dan wawancara pekerja kebun binatang. Dokumenter mengijinkannya berangkat dalam keadaan merdeka dan tidak sepenuhnya tahu apa yang akan tercipta, lalu, segala yang ia serap dalam proses tersebut justru akan menuntunnya pada pengetahuan yang lebih utuh.
Baginya, menjadi seorang sutradara film dokumenter berarti menjadi seorang penangkap kisah; ia datang membaur dengan peristiwa membawa kesadaran penuh bahwa kehidupan dan kisah sudah hadir seutuhnya tanpa perlu batas-batas bingkai dan aba-aba verbal–seperti “action” dan “cut”. Seringkali, dalam prosesnya, ia hanya diam; berlagak mempersiapkan sesuatu, tak memberitahu bahwa kamera sudah rolling. “Sebab diam adalah bahasa.” ujarnya. Bahasa yang jujur tanpa pretensi, tanpa front yang tak sengaja tercipta ketika mendengar ‘adegan’ sudah dimulai. Kisah memang sudah dimulai, Danan hanya perlu menangkapnya saja, dan kemudian–sebagai sutradara–menjahitnya dengan apik.
Giatnya dalam dokumenter juga terdorong oleh adanya ruang untuk pencarian bentuk baru, seperti yang coba ia terapkan dalam “Weninggalih”, Tugas Akhir S1-nya. Pada umumnya, jika ada kebutuhan untuk segmen reka ulang sejarah, animasi menjadi pilihan populer dalam dokumenter. Namun Danan berupaya lain. Adegan historis tentang perjalanan petani kopi di Kabupaten Bandung Barat tersebut ia bungkus dengan pertunjukan Wayang Tavip, sebuah wayang kontemporer ciptaan M. Tavip.
Di luar dokumenter, tentunya Danan juga melakukan berbagai kerja komersil seperti pembuatan iklan Prodia, THENBLANK, dan video klip beberapa musisi Nusantara seperti Mondo Gascaro, Lomba Sihir, dan Hivi. Namun, bahkan dalam proyek-proyek tersebut, ia selalu melakukannya dengan pendekatan dokumenter.

Perjalanan Panjang Merayakan Jejak
Ada satu hal yang ia sadari; di rumah tempatnya tinggal tersimpan harta karun. Sang Ayah adalah penata rias yang terlibat di pembuatan film “Penumpasan Pengkhianatan G 30 S PKI” yang disutradarai oleh Arifin C. Noer. Rekam jejak sang Ayah dalam film yang memiliki pengaruh masif dan pernah menorehkan trauma berat bagi beberapa generasi Indonesia ini tentunya sangat menarik. Beruntungnya, Ayah Danan merekamnya dengan begitu teliti dalam sistem pengarsipan pribadi yang rapi.
Ketika Danan berniat melanjutkan kuliah jenjang pascasarjana di jurusan Kreasi Seni Urban, Sapardi Djoko Damono dan Seno Gumira Ajidarma bertanya padanya tentang rencana karyanya. Danan menyampaikan tentang rencananya menjalankan riset tentang proses kreatif di balik film tersebut. Ia pun diterima sebagai mahasiswa pascasarjana, dan perkuliahan dijalankan paralel dengan proses riset serta pengolahan karya ini bersama Kapsul Waktu Studio. Langkah Danan didampingi oleh produsernya, Bunga Ineza Bastaman dan Damar Ardi. Ide ini pun terus ditempa dalam berbagai pitching forum yang menjadikan proyek ini salah satu karya terpilih, seperti Docs by The Sea(2020), AsiaDoc (2021), dan AKATARA (2022). Langkah Danan didampingi oleh produsernya, Bunga Ineza Bastaman dan Damar Ardi. Inilah awal mula penggodokan jangka panjang; sebuah perayaan dan telisik jejak kreatif yang begitu berpengaruh pada bangsa ini.
Pencarian Harta Karun yang Menuntun Pulang
Melalui proses mentoring Docs by The Sea (2020) dengan Jane Mote, seorang pegiat film dari Prancis, draft pertama Danan mengalami beberapa kali transformasi; perubahan judul–dari “Permanen” menjadi “Making Up”, untuk menitikberatkan pada proses kreasi tata rias dan mengandung komponen makna ‘memperbaiki’ suatu zaman, juga pertimbangan bentuk dokumenter interaktif–di mana sutradara turut masuk ke layar, demi menonjolkan hubungan antara ayah dan anak. Perjuangan Danan melengkapi arsip pun tak berhenti; lucunya, saat mengunjungi Sinematik Indonesia PFN, mereka justru tidak memiliki arsip tersebut dan menyarankan Danan untuk mencari arsip tersebut di Pak Barkah; Ayah Danan. Hal itu membuat Danan sadar bahwa kelangkaan arsip yang ia miliki menjadikan value karyanya semakin tinggi.
Telur Emas dan Kepingan-kepingannya
Karya ini bagai telur emas yang ternyata butuh waktu panjang untuk menetas; proses pendanaan dan penggarapan sebuah film dokumenter panjang dengan hasil riset ini tentunya tidaklah mudah. Maka, Danan memutuskan untuk mengantar si telur emas menuju tetas lewat kepingan-kepingan kecil.
Di AKATARA (2022), Mandy Marahimin mendekati Danan dan melempar padanya sebuah pertanyaan; “Bagaimana kalau kita bikin (Making Up) jadi 10 menit?” Pertanyaan itu pun disambut dengan senang hati oleh Danan yang kemudian mengerami karya ini secara spesifik bersama Talamedia dan Kurawal Foundation.
Secara paralel, pada 2023 ia mengajukan pendanaan pada PEN (Pemulihan Ekonomi Nasional) Kemenparekraf yang pada saat itu sedang mencari dokumenter soal maestro. Ia pun membuat “Terang Bayang”, tentang jejak sang Ayah dari awal berkarir hingga menjadi maestro tata rias. Kemudian, pada 2024, kepingan dari telur emas yang digarap bersama Talamedia dan Kurawal Foundation itu akhirnya resmi menetas menjadi bentuknya yang sekarang, berjudul “Di Balik Rupa”; sebuah film pendek yang berfokus pada proses kreatif tata rias sang Ayah dalam pembuatan properti jenazah film “Penumpasan Pengkhianatan G 30 S PKI”.
Proses penggarapannya pahit manis. Proses wawancara dilakukan ketika kondisi sang Ayah sudah mulai menurun. Ketika menjawab pertanyaan Danan di balik kamera, beliau berkali-kali membahasakan dirinya sebagai “Ayah” dan bukan “saya”; secercah hubungan ayah anak yang menubuh dan sulit dikesampingkan. Demi kebutuhan wawancara, Danan pun meminta sang produser yang melakukan proses wawancara.
Karya ini dibalut dalam kemasan unik, hibrida dengan animasi karya kawan karibnya, Gata. Gata memiliki goresan khas; organik, tidak terlalu bersih, tapi justru semakin menguatkan kesan proses penggarapan sesuatu yang besar. Mereka pun memilih finishing yang khas bagi elemen animasinya, yakni sedikit transparan–ghostly, bagai hantu memori yang merongrong benak beberapa generasi Nusantara. Karya ini menjadi Episode ke-3 dari seri “Buried Chapters”, sebuah program untuk membuka dialog tentang babak-babak sejarah Indonesia.
Di samping kesibukan berkarya, rupanya Danan tak lupa mengabdi pada masyarakat. Ia kini bekerja sebagai dosen di Institut Media Digital EMTEK dan menjabat sebagai Kaprodi S1 Seni Pertunjukan. Danan memandang dirinya sebagai dosen purnawaktu, dan pembuat film paruh waktu. Baginya, proses ajar mengajar justru memperkaya pengalaman dan ilmunya. Bagaimana pun, profesi ini bukannya tanpa dampak; Danan harus menerima fakta bahwa mengajar membuat tempo berkaryanya menjadi lebih lambat. Namun, bekerja sebagai dosen juga memicunya untuk terus berkarya, “Kita harus memberi contoh pada mahasiswa bahwa sebagai seniman, kita tetap membuat karya.”
Entah kepingan telur mana lagi yang akan ia tetaskan. Mungkin dari telur yang sama, atau yang sama sekali lain. Mungkin ia akan membiarkan Depok menjadi saksi pertama diskusi-diskusinya lagi dengan berbagai kolega kesenian yang sebetulnya begitu memenuhi kota ini. Jika waktunya telur itu menetas, semoga kota ini sudah lebih siap menyambutnya dengan ruang-ruang apresiasi yang lebih kokoh.
Ya, semoga.






