Di tengah padat dan hiruk-pikuknya Mampang, di antara sesaknya Pancoran Mas, juga bising deru knalpot angkot. Ada nyala bara api yang tak pernah padam, berupa bunyi yang harus dijaga. Ia adalah Bagus Setiyo Hadi Kusuma Hidayat, atau biasa di panggil Bhaga. Seorang musikus tradisi asal Depok yang melalui bunyinya telah banyak mendapatkan sorak tepuk tangan. Setelah …
Api dalam Bentuk Bunyi yang Terus Merongrong di Kota yang “Durhaka”

Di tengah padat dan hiruk-pikuknya Mampang, di antara sesaknya Pancoran Mas, juga bising deru knalpot angkot. Ada nyala bara api yang tak pernah padam, berupa bunyi yang harus dijaga. Ia adalah Bagus Setiyo Hadi Kusuma Hidayat, atau biasa di panggil Bhaga. Seorang musikus tradisi asal Depok yang melalui bunyinya telah banyak mendapatkan sorak tepuk tangan.
Setelah menyelesaikan studinya di Universitas Negeri Jakarta—dengan jurusan musik tradisional, sehari – hari Bhaga bekerja sebagai guru kesenian dan budaya di salah satu Sekolah Luar Biasa di daerah Jakarta, selain itu ia juga komposer dan pengaransemen untuk film, teater, dan hingga seni seni kontemporer lainnya. Bhaga juga menyabet beberapa penghargaan, salah satunya Penata Musik Terbaik di Festival Teater Jakarta pada tahun 2021, 2023, dan 2025
Bhaga berangkat dari bunyi kendang dan merdunya bunyi flute, hingga akhirnya berkembang ke kesenian lainnya. Ia merongrong lewat paduan suara Gambang Kromong, Gamelan Degung, Gamelan Ajeng, hingga Wayang Potehi. Dari simpang inilah ia menemukan estetika ciptaannya sendiri. Ia telah menjalankan keseniannya sampai ke penjuru dunia. Eropa sampai Amerika dilibasnya. Tidak ketinggalan sekitar Asia dijajakinya. Sambil kelana kesenian, tak lupa ia mengamati bagaimana proses terjadinya tradisi dan budaya terjaga di negara – negara yang ia singgahi.
“Di negara kita. Tradisi, budaya dan kesenian masih selalu dikesampingkan. Berbeda di negara-negara yang pernah gue kunjungi, contohnya korea selatan yang terdekat dari kita. Mereka sudah punya jadwal dan punya plotnya masing-masing untuk berkesenian, ruang-ruang nya jelas gitu.”
Memang ruang selalu menjadi topik besar jika kita membicarakan kesenian di negara ini, atau di kota ini, terlalu rumit sekiranya jika kita membicarakan sebuah negara.
Bhaga lahir di Jakarta, tetapi besar dan tumbuh di Depok, kota dengan turbulensi dan juga ketidakpeduliannya akan tradisi dan budayanya. Bagi sebagian orang mungkin ini hal yang biasa, atau “buat apa terlalu dipikirkan?”. Tidak bagi Bhaga. Ia merasa ruang di kota ini sangat terbatas. Dimulai dari sulitnya ruang eksibisi bahkan dipersulit dalam hal-hal administratif. Sampai pada akhirnya ia harus mengakali bagaimana caranya agar ia bisa terus melangkah. Bhaga memulainya dengan cara mengubah alamat pribadi dan menumpang alamat rumah saudaranya, di daerah Jakarta. Alasannya jelas, kemudahan mengurus berbagai dokumen administrasi. Ditambah jarak tempuh tidak terlalu jauh karena akses mumpuni.

Kota Depok berada di simpul yang rumit secara geografis. Ia beririsan langsung dengan DKI Jakarta, berbatasan dengan Kota Bekasi, Tangerang Selatan, serta diapit oleh Kabupaten Bogor. Posisi ini menjadikan Depok sebagai wilayah penyangga, atau bisa disebut sebagai ruang nodal yang setiap hari kebudayaannya saling bertubrukan. Secara administratif, Depok berada di Jawa Barat. Namun secara keseharian, banyak warganya bekerja, bersekolah, dan berinteraksi dengan Jakarta. Bahasa yang terdengar di ruang publik pun berlapis-lapis, Betawi, Sunda, hingga ragam urban Jakarta. Seharusnya identitas yang lahir dalam budaya di kota ini bisa diambil dari “kemajemukan”.
Di sekolah-sekolah, misalnya, terdapat pelajaran Bahasa Sunda sebagai bagian dari kurikulum muatan lokal. Kebijakan ini disahkan secara administratif karena Depok masuk wilayah Jawa Barat. Tapi menurut Bhaga, mestinya kedekatan geografis dan kultural dengan Jakarta juga perlu mendapat ruang yang sama dalam pembentukan identitas warga. Di titik inilah percakapan tentang krisis identitas sering muncul.
Bagi Bhaga, kegamangan itu bukan soal memilih antara Sunda atau Betawi. Yang ia khawatirkan adalah hilangnya ruang rawat. Tradisi kita bisa sangat mudah hilang karena tak ada pewaris atau perawat.
“Kita harus punya man power dan ruang ekosistem baru lagi untuk merawat budaya dan tradisi di Depok,” ujarnya.
“Biar Gong Si Bolong tetap ada yang mainin.”
Depok pada akhirnya hanya menjadi bagian dari sekilas ruang produksinya. Bhaga memang belum lelah untuk menjaga budaya dan tradisi di kota ini, namun pada satu sisi ia juga enggan di cap sebagai revolusioner. hingga pada akhirnya ia harus kembali berkelana, sambil terus mengakali proses berkeseniannya.






