Dari Bekasi, karena ada urusan akademik dulu, langit udah kebacut mendung, awan awan gelap nongkrong di atas kepala. Kayak udah niat ikutan nonton konser dari awal. Di perjalanan menggunakan motor tua, katakanlah sekitaran Margonda, Depok siang itu, malah panas-panas lembab, bikin kaos jadi nempel terus. Aduh rasanya kayak jalan sambil dipeluk setrika. Sampai lokasi, niat …
THEPOPSTIVAL 2025 : Capek, Lengket, Sedikit Basah, Puas

Dari Bekasi, karena ada urusan akademik dulu, langit udah kebacut mendung, awan awan gelap nongkrong di atas kepala. Kayak udah niat ikutan nonton konser dari awal. Di perjalanan menggunakan motor tua, katakanlah sekitaran Margonda, Depok siang itu, malah panas-panas lembab, bikin kaos jadi nempel terus. Aduh rasanya kayak jalan sambil dipeluk setrika. Sampai lokasi, niat awalnya “nongkrong dulu biar dapet vibe” malah belok jadi “jajan dulu biar punya tenaga”. Lucunya, porsi jajan lebih serius daripada porsi duduk-duduk; saya lebih sering mondar-mandir cari minum dingin dan cemilan daripada benar-benar menetap di satu spot.

Dan ya, jujur aja, bagian paling asik dari semua itu bukan cuma musiknya aja. Saya menikmati kok tetap musiknya. Tapi momen kecil yang numpang hidup di sela-sela set juga seru. Sebat pada nyala bergantian, teman-teman datang dan pergi seperti angkot, obrolan receh yang tiba-tiba jadi lucu banget tanpa sebab. Kadang ada satu kalimat konyol, terus semua ketawa, lalu merasa “nah, ini dia konser”, bukan gara-gara panggungnya, tapi karena kebersamaannya.
Hujan sempat turun tipis, tapi cukup untuk bikin suasana sedikit kacau. Aneh juga, di kota yang acara musiknya udah sering ketemu hujan, kok nggak nyewa “pawang hujan”. Gerimis kecil terasa seperti plot twist yang terburu-buru: orang-orang geser-geser, barang ditutup seadanya, ritme sempat berantakan. Dan kalau pun ada yang merasa sudah bayar “jaminan cuaca”, ya sudahlah—dipastikan uangnya tidak kembali. Tapi begitulah ya gigs hari ini. Kadang yang kita bawa pulang bukan cerita tentag musiknya, justru malah cerita yang random. (Apa itu saya saja, ya?)
Nah, di sekitaran area Bumi Wiyata, panggungnya Warnoes ini jadi kejutan yang menyenangkan buat saya. Ada sebuah rasa, entah rasa apa, pokoknya rasa yang bikin suasananya lebih nempel di pikiran. Mungkin karena muka-muka lebih kelihatan yah soalnya terbuka banget. Beda dengan panggung utama yang harus masuk pintu gedung aula dulu. Corale Riff band Depok yang digawangi Sekar, Shinta dan Dev, tampil pertama setelah Podcast Bram usai. Mereka tampil berbeda, biasanya cuma bertiga pakek sequencer, sekarang jadi format full-band. Ada suara drum yang terdengar bukan suara midi lagi. Mereka kini seperti paham betul cara mengisinya, apa karena jebolan anak-anak teater koma ya?

Dan puncak kesan di panggung Warnoes, buat saya, tetap: Ipank Hore Hore dan Dongker x Jason Ranti sih. Semuanya ramai-ramai pengen lihat mereka. Ipank itu tipe penampil yang bikin venue seperti jadi tongkrongan besar dengan cara ngajak ngobrol penonton, yaah kayak pemain lenong deh. Mana dia waktu itu pake topeng lenong. Walau cuma tampil sebentar, tetap ada energi serunya, ada humor, ada momen yang bikin orang nyengir sambil tetap ikut nyanyi-joget. Dongker x Jason Ranti, sama juga, tampil seperti biasanya dengan topeng balaclavanya. Beberapa penonton juga terlihat menggunakan topeng yang sama. Semua orang joget, teriak-teriak, naik ke punggung temannya, dan kayak biasa; crowd surfing.

Di panggung utama dalam aula gedung Bumi Wiyata, saya cuma sempat nonton beberapa band, salah satunya Fractal, band hard core asal Bogor. Wah, yang nonton banyak melakukan gerakan-gerakan moshing, saya dengar beberapa dari mereka bilang “wah ini dedek-dedek moshpit”. Ngomong-ngomong soal ekspresi, ternyata orang Depok butuh banget ya ruang dinamis yang “boleh tumpah” kayak gini, selama ada yang jamin aman. Keliatan tuh beberapa penonton seperti udah punya ritual sendiri. Mereka tarik napas, pasang posisi, lalu masuk lingkaran, terus keluar lagi sambil ketawa.
Ada juga cerita-cerita kecil yang saya rekam, saya bertemu dua santri kabur dari pondoknya di Parung demi cuma nonton The Panturas. Dengan sebatang rokoknya di tangan, sungguh miris, dua anak di bawah umur bisa bebas kesana-kemari dengan kebulan asapnya. Ya saya paham, kadang orang datang ke gigs seperti ini bukan cuma buat hiburan, tapi kadang buat cari suasana baru dari rutinitas. Semacam pelarian sebentar, buat ngerasain jadi diri sendiri tanpa banyak aturan ini itu. Ada juga sepasang muda-mudi yang vibes-nya agak berbeda. Si cowok kelihatan niat banget, dipikirannya kayak ada semacam motivasi “harus jadi”. Si cewek… entah kenapa auranya seperti dipaksa, tidak terbiasa dengan konser, mungkin. Sampai akhirnya The Panturas mulai main. Saya jadi menyadari bahwa musik itu punya kemampuan mengubah orang dari “datang karena terpaksa” jadi “Yaudah, gue jalanin aja dah.” Bahkan kalau si cewek tetap nggak lompat-lompat, paling nggak ia berhenti keliatan jengkel—dan itu sudah kemajuan.

Beda ekspresi moshpit, pas The Panturas main, penonton bikin semacam “ombak”, mereka masih gila-gilaan crowd surfing tapi yang penting safety lah ya. Saya jadi punya pernyataan, bahwa acara yang keren itu, intinya, bukan masalah siapa yang tampil atau banyaknya jumlah pengunjung, tapi penyelenggara bisa mengendalikan keamanan, menjamin keselamatan dan menciptakan kegembiraan. Emang safe ya? Ya jelas safelah, kalau tenggelem palingan cuman ke lantai, nggak ada piranha atau hiu.
Pada akhirnya Thepopstival jilid satu ini beres. Capek, lengket, sedikit basah, tapi puas. Saya kudu lari dari Bekasi ke Depok ngebut demi liputan dan demi kawan yang mau nge-gigs. Mengejar momen yang sebentar dan bisa jadi cerita panjang. Seperti biasa, yang paling menempel di saya beberapa obrolan lucu di sela lagu, rokok yang berpindah tangan, orang-orang yang ketawa setelah hampir jatuh di moshpit, dan hujan tipis yang bikin semua orang terlihat lebih manusia.
Thepopstival mungkin belum sempurna, belum inklusif untuk semua kalangan, tapi ia sudah punya sesuatu yang paling penting: ruang-ruang untuk musik itu sendiri, ruang untuk ekspresi yang sering luput dari pembangunan kota, ruang untuk “jadi penonton” dengan gaya masing-masing. Kalau jilid satu saja sudah se-riuh ini, sisanya tinggal satu: semoga jilid berikutnya lebih rapi.





