Memories and matter, wuz dat? Jah!! DAS KULTURAL!! Jika kita bicara budaya, lekat dan berhubungan dengan masalah manusia: dan ini adalah hal-hal yang berkaitan dengan konsep penggambaran ingatan. Disini kita berfikir, bahwa manusia memiliki sebuah pendekatan yang sangat emosional kepada semua hal yang dia lihat. Tanggapan manusia terhadap apa yang dia alami dalam bentuk kata-kata, …
Depok dan Ingatannya yang Retak: Pentingnya Media Dalam Merawat Memori Kota

Memories and matter, wuz dat? Jah!! DAS KULTURAL!!
Jika kita bicara budaya, lekat dan berhubungan dengan masalah manusia: dan ini adalah hal-hal yang berkaitan dengan konsep penggambaran ingatan. Disini kita berfikir, bahwa manusia memiliki sebuah pendekatan yang sangat emosional kepada semua hal yang dia lihat. Tanggapan manusia terhadap apa yang dia alami dalam bentuk kata-kata, prilaku ataupun kebiasaan (budaya) juga adalah tanggapan yang emosional. Lalu apa itu sebenarnya ingatan dan emosi? Apa juga hubungannya dengan materi?
Hal-hal yang kita lihat adalah pengalaman, termasuk yang kita dengar maupun yang rasakan. Sewaktu kita bayi misalnya semakin kita ingat itu sebenarnya dimana kita mulai mengetahui emosi. Ketika emosi itu tidak ada, maka bisa dipastikan tidak ada ingatan. Emosi manusia terbentuk ketika masuk umur 4 tahun, artinya apa yang dilakukan bayi dibawah umur itu dipastikan bukan emosi melainkan sifat naluriah hewani.
Ketika saya pernah berbicara kepada salah satu seorang jenius, dia pernah berteori: jika manusia itu adalah hasil evolusi dari sebuah hewan maka dipastikan mulainya hewan itu berevolusi ketika dia mulai memahami emosi dan situ dia berfikir. Hanya saja teori dia tentang munculnya emosi adalah dari jamur beracun yang membuat hewan itu berhalusinasi. Menurut saya sebenarnya dia itu sedang diam-diam bersiasat untuk melegalkan ganja, atau substansi lain. Tetapi teori dia menarik untuk dibahas ketika membicarakan hal-hal yang berkaitan dengan emosi dan ingatan.
Munculnya konsep Tuhan, juga bisa dipastikan karena ingatan dan emosi dan ini adalah hal yang sakral. Karena jika itu diganggu maka seseorang bisa menjadi tambah emosional (dalam kasus kasus legal formal modern, dia akan mengaggap gangguan itu sebagai penistaan agama). Akan tetapi sesuatu yang sangat disayangkan adalah hilangnya emosi dan ingatan, dan ini sangat pedih dan juga bisa menimbulkan penderitaan. Bayangkan apa yang dibangun dan membentuk seorang individu itu hilang dari pemahamannya, tidak diketahui dan mungkin bisa saja ketika manusia tidak mengingat asal usulnya dia akan kembali menjadi hewan. Manusia yang tidak tahu, tidak ingat jelas kehilangan arah. Mungkin saja, dengan niat yang baik dia tidak lama mengalami itu dan dalam waktu yang singkat dia bisa menemukan pencerahan dan kembali pada arah yang ditentukan.
Sama halnya para peneliti dan ilmuwan yang percaya evolusi menentukan sebuah thesis bahwa “konsep Tuhan itu ternyata hasil pemikiran hewan yang berevolusi” adalah sebagai sebuah pencerahan.
Orang-orang yang berkuasa mengetahui hal itu, dan untuk membuat rakyat kehilangan arah dia hancurkan ingatan-ingatan tersebut. Dia, sang penguasa akan selalu mempertahankan kondisi manusia dalam keadaan lupa. Sampai suatu ketika mereka pun, yaitu sang penguasa, menjadi lupa.
Di tengah kota, satu-satunya hal yang menjadikan penting untuk melestarikan ingatan dan emosi itu adalah susunannya. Lokasi, dimana dan bagaimana cara manusia itu bermukim adalah susunan ingatan dan emosi yang bisa diingat. Di era modern sekarang, kita mengenal konsep “media” yang mana digunakan untuk menangkap esensi dan juga hubungan-hubungan ingatan dengan kota tersebut. Media itu penting, dan ini yang bisa dijadikan kesadaran untuk menentukan arah perkembangan para pemukim dan juga warga kota tersebut. Depok adalah satu korban dari sebuah kota yang mana penguasanya pernah membuat warganya lupa, mencoba menumbuhkan pengalaman baru yang tidak ada hubungannya dengan kota tersebut. Susunan kota Depok berpusat pada sebuah jalan lurus, dan itu adalah satu media yang bisa menumbuhkan rasa ingin tahu tentang ingatan kota Depok. Selain jalanan, kemelekatan pemukiman turut membangun ingatan dan emosi itu seperti sekolah, tempat berkumpul, landmark dan lain sebagainya.
Perlu diketahui untuk mengarahkan perkembangan tidak perlu juga menghapus ingatan atau sejarah kebudayaan. Padahal ingatan itu, apapun sejarahnya bisa dijadikan sebuah pelajaran penting untuk diingat agar tidak perlu melewati kepahitan yang sama. Kebudayaan Depok adalah sebuah ingatan akan asal usul yang beragam, dan mungkin juga berisikan kepahitan. Kebudayaan Depok adalah sebuah cerminan kota yang terpinggirkan, yang dulu pernah menjadi pemukim para Pendeta karena ditolak oleh meneer Guvernoor Jakarta. Jarang media membahas hal ini, dan mereka hanya melihat sebuah gemerlap kota mahasiswa, kota belimbing, atau kota Margonda. Depok adalah kota pemukiman yang menyimpan banyak cerita, tapi jarang media menceritakan pengalaman Depok.
Sekarang ingatan kota Depok adalah kerajaan yang dikuasai seorang ratu bernama Ayu ting-ting, yang warganya pernah mengalami kejadian mistis yaitu menemukan Babi-Ngepet.
Kita bisa melihat daerah-daerah lain menggelora dan menggeliat karena mereka terhubungkan melalui semacam media dengan ingatan dan emosinya. Di Depok, sayangnya hal itu belum bisa terjadi (atau medianya tidak berkerja dengan semestinya). Ketika manusia tidak terhubungkan dengan dirinya sendiri maka, dia menjadi tidak utuh.
Pernahkan Anda bertanya, kenapa kita tidak bisa atau sulit mewujudkan cita-cita? Bisa jadi materialisme-nya itu tidak terhubungkan pada emosinya. Anda bisa memiliki rumah, mobil, kekayaan tetapi apakah itu adalah materialisme itu dari diri anda (ingatan dan emosi)?
Depok adalah wujud (materi) yang tidak berbentuk utuh karena media atau perekatnya tidak menyampaikan kebenaran. Mungkin lupa, mungkin juga dalam kendali kekuasaan seseorang, who knows ?
Tetapi kita sekarang sudah menyadarinya, DAS KULTURAL!!