Mantra Komedi dan komunitas Depok Magician memprakarsai sebuah acara kolaborasi kemanusiaan untuk mendukung korban banjir di Sumatra. Aksi ini menjadi momentum langka sekaligus bersejarah karena mempertemukan dua cabang seni pertunjukan stand up comedy dan sulap dalam satu panggung. Inisiatif ini diawali dari Mantra Komedi (Mako), sebuah talent management yang berbasis di Depok. Dalam giat-giatnya turut …
Komika dan Pesulap di Depok Bersatu Mendukung Korban Banjir di Sumatra

Mantra Komedi dan komunitas Depok Magician memprakarsai sebuah acara kolaborasi kemanusiaan untuk mendukung korban banjir di Sumatra. Aksi ini menjadi momentum langka sekaligus bersejarah karena mempertemukan dua cabang seni pertunjukan stand up comedy dan sulap dalam satu panggung.
Inisiatif ini diawali dari Mantra Komedi (Mako), sebuah talent management yang berbasis di Depok. Dalam giat-giatnya turut aktif mendukung ekosistem seni lokal lewat pertunjukan stand up comedy. Mereka terhubung dengan komunitas Stand Up Indonesia cabang Depok. Berangkat dari keprihatinan terhadap banjir yang melanda Sumatera yang semakin hari dampaknya semakin parah, Mako mengajak Komunitas Depok Magician untuk tampil bersama dalam format pertunjukan kolaboratif di Kaldi Cafe, Juanda.
“Awalnya kita kan emang sama-sama jadi talent mingguan ya di Kaldi. Terus gue bilang ke Ricky Lee (Depok Magican), kita harus nih buat suatu gerakan untuk Sumatra karena yang lain udah buat. Akhirnya tercetuslah aksi bersama ini,” Cerita Dimas Mantra, selaku founder Mako.
Selain itu Mako juga mengundang komunitas Stand Up Comedy Depok dan komunitas Stand Up Cinere sebagai performer. Yang menarik, format pertunjukan dikemas secara pergantian. Sebelum perform, para komika menjadi MC bagi pesulap, pesulap juga bergantian sebagai MC untuk komika. Keduanya pun saling merespons di atas panggung. Dinamika ini menciptakan suasana yang cair sekaligus memperlihatkan bagaimana dua seni pertunjukan yang berbeda bisa saling melengkapi. “Seru sih, pada saling support. Mereka support ketawa pas kita bawa materi, kita juga support jadi kelinci percobaan pesulap, nah tentu kita bikin jadi suasana komedi,” Ujar Dimas sambil tertawa.
Meski suasana menjadi sangat menyenangkan, mereka tidak meninggalkan esensi tentang kemanusiaan dan tujuan dari pada acara ini. “Semakin malem semakin banyak tuh stand up yang ngekritik, kayak gue ngomong, ini donasi kita langsung ke Sumatra ya, bukan Brazil.”
Selain menikmati pertunjukan, para penonton juga diajak berdonasi melalui pemindaian barcode yang disediakan panitia. Donasi yang terkumpul disalurkan melalui Sekolah Relawan, lembaga yang telah berpengalaman dalam pendistribusian bantuan kemanusiaan, guna memastikan bantuan sampai ke tangan yang tepat. Bagi para penggiat seni yang terlibat, acara ini menjadi bukti bahwa solidaritas lintas komunitas bukan hal mustahil.
Mereka berharap model kolaborasi seperti ini dapat direplikasi di kota-kota lain, dengan melibatkan berbagai disiplin seni. “Alhamdulillah sejauh ini pada seneng, temen ada yang bilang ‘gila, pecah nih’, tapi emang kita bener-bener totalitas sih,” tutup Dimas.






